It's Time to Change


Siapa yang tak kenal dengan tokoh da'wah yang satu ini.Bahkan demi mengenangnya sampai-sampai kisah hidup beliau dijadikan sebuah film berjudul "Sang Murobbi".Ia dialah KH>Rahmas Abdullah sang Syaikhut Tarbiyah.KH Rahmat Abdullah dilahirkan di kota Jakarta pada tanggal 3 Juli 1953. Putra kedua dari 4 (empat) bersaudara ini hidup dari keluarga asal Betawi yang sederhana dan taat beragama. Pada usia 11 tahun ia harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, saat itu ia mulai berstatus sebagai seorang anak yatim.

Awal pendidikan resminya, disamping dididik oleh kedua orangtuanya, ia memasuki sebuah perguruan Islam yang terkenal di Jakarta, Perguruan Asy-Syafi'iyah bimbingan KH Abdullah Syafi'i (tokoh Islam yang berwibawa di kota ini) hingga menamatkan sekolah tingkat Aliyah (tingkat menengah) dengan prestasi yang gemilang.

Rahmat Abdullah muda sangat berbeda dengan kaum remaja seusianya pada saat itu. Ia taat beribadah, disamping mempunyai karakter dan akhlaq yang mulia. Hari-harinya dihabiskan untuk belajar, membaca dan membaca. Bahkan di usianya yang sangat muda, ia telah memposisikan dirinya sebagai guru ditempat ia menuntut ilmu.

Dunia ilmu adalah dunia yang sangat melekat dalam dirinya. Kegemarannya membaca al Qur'an dan aneka buku membuat ia jauh lebih cepat matang dibandingkan dengan remaja-remaja lain pada umumnya.Di saat inilah ia banyak membaca pikiran-pikiran para tokoh perjuangan, seperti HOS Cokro Aminoto, Moh. Natsir, Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, Maududi dan tokoh-tokoh lainnya.Di samping ia tetap menekuni kitab-kitab klasik (kitab kuning) sebagai warisan sejarah.

Kebersihan jiwanya telah mengantarkan Rahmat Abdullah menjadi pemuda pembelajar cepat yang sangat cemerlang seperti sebuah lautan ilmu tanpa menyandang gelar. Ia perpaduan antara khazanah ilmu-ilmu keislaman klasik dan pandangan Islam modern yang tidak dimiliki oleh banyak orang yang berlabel sang ustadz.

Dunia seni dan sastra sebagai media komunikasi budaya juga merupakan bagian bagi dirinya yang tak pernah lepas. Antara bakat dan semangat yang telah melekat. Ia gemar dzikir dan fikir, membaca fenomena alam yang kemudian diekspresikan dalam bentuk produk seni, seperti puisi, esai, butir-butir nasyid dan naskah drama. Oleh karena itulah banyak orang cenderung menjulukinya sebagai seorang “budayawan”.

Sebagai da’i sejati, ia habiskan waktu, tenaga serta pikirannya untuk kegiatan da’wah. Siang dan malam dilaluinya pengajian demi pengajian tanpa mengenal lelah dan keluh kesah. Ia menjadi tempat anak-anak muda berkonsultasi, berbagi rasa, curahan hati tanpa ada batas waktu “pelayanan ummat”. Itulah peran yang ia mainkan hingga kini.

Sebagai seorang Muballigh, ia dikenal memiliki karakter yang khas. Kemampuan retorika tinggi yang dihiasi oleh sentuhan sastra yang unik, acap kali membuat para pendengar menangis sebagaimana kemampuan ia membangkitkan semangat yang menggelora ketika ia mengangkat isu tentang jihad.

Beliau juga aktif mengisi ceramah di radio dan televisi. Beliau adalah pengisi rutin rubrik “Titik Pandang Rahmat Abdullah” di Radio Dakta Bekasi setiap Sabtu jam 06.30 WIB. Di radio ini pula beliau menggagas rubrik SAMARA yang disiarkan setiap malam Rabu.

Sebagai seorang penulis, beliau aktif menulis buku dan mengisi rubrik di beberapa majalah Islam, seperti majalah Sabili, Islah, Saksi, Ummi, dan Tarbawi. Di majalah yang disebutkan terakhir inilah, beliau secara rutin mengisi rubrik Asasiyat yang kemudian oleh Pustaka Dakwatuana diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul “Untukmu Kader Dakwah” pada tahun 2005.

Awal tahun 80-an, ia memasuki dunia harokah Islamiyah yang pada saat itu mulai tumbuh di Indonesia hingga menghantarkan beliau sebagai pakar dalam bidang Tarbiyah, majalah Sabili pernah memberinya gelar “Syaikh at Tarbiyah” pada tahun 2001. Dengan bermodalkan sepeda motor tua ia masuk kampung keluar kampung, masuk kampus keluar kampus menabur fikrah Islamiyah yang shahih dan syamil. Fikrah Ikhwanul Muslimin yang didistribusikan ternyata mendapat sambutan yang hangat dari berbagai kalangan yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya PKS.

Awal tahun 90 beliau memasuki pengembangan dunia pendidikan dan sosial secara formal, sebagai wujud dari kepeduliannya terhadap lingkungan. Ia mendirikan ISLAMIC CENTER IQRO’ yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan da’wah di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Di sinilah ia menetap dan disinilah ia berekspresi mengembangkan cita-citanya melalui kajian kitab-kitab klasik setiap Ahad pagi.

Proses perjalanan da’wah yang panjang akhirnya telah menggiringnya pada keterlibatan dalam dunia politik yang kini ia geluti. Partai Keadilan yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), adalah bagian dari dirinya. Ia salah satu pendiri dari partai yang berbasis islam intelektual itu.

Posisi tertinggi dalam partai, yang pada saat ini diperhitungkan itu, telah dicapainya. Sebagai bentuk kepercayaan penduukung terhadapnya. Disamping ia menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) dan Majelis Syuro, iapun menjabat sebagai anggota DPR-RI (parlemen).

Hari-harinya diwarnai oleh kesibukan yang luar biasa. Mengajar, ceramah di berbagai stasiun radio dan televisi, mengisi seminar-seminar keislaman di berbagai daerah dan luar negeri, menulis artikel di sejumlah media cetak, disamping melakukan tugas lobby politik dengan berbagai kalangan.

Di akhir hayatnya, beliau masih sempat mengikuti rapat Lembaga Tinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Selasa (14 Juni 2005) di Gedung Kindo Duren Tiga Jakarta Selatan yang dimulai ba’da Ashar sekitar jam 16.30 WIB. tak ada tanda-tanda kalau beliau sedang sakit. Wajahnya cerah seperti biasa. Namun, ketika beliau wudhu untuk menunaikan shalat Maghrib, beliau merasakan sakit di sekitar kepalanya. Beliau sempat diperikas dr. Agus Kushartoro, Direktur Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Ia dinyatakan terkena stroke. Sempat dibawa ke rumah sakit Triadipa Pancoran, akan tetapi karena peralatannya kurang memadai, beliau lalu dibawa ke rumah sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta. Namun di tengah perjalanan, beliau dipanggil Allah Swt. Beliau wafat dalam usia 52 tahun, meninggalkan satu istri dan tujuh orang anak.

SELAMAT JALAN MUJAHID DAKWAH. MURIDMU, KADER-KADERMU AKAN MENERUSKAN CITA-CITA DAN PERJUANGANMU.


Read More …


Semua insan tentunya memiliki sebuah impian. Bahkan bagi sebagian orang impian itu hadir begitu nyata dimata mereka dan menjadi penunjuk arah untuk mewujudkannya. Sejarahpun telah mencatat bahwa sebagian besar orang-orang yang sukses dalam hidupnya adalah orang-orang yang memiliki impian, ya impian besar tentunya...dan terkadang tak jarang impian mereka di luar logika manusia biasa. Namun jangan samakan logika kebanyakan mereka dengan logika pemimpinya. Seorang pemimpi, ia yakin apa yang ia impikan benar-benar akan terwujud suatu saat nanti, walaupun mereka sadar untuk merealisasikannya tidak mudah. Tapi ia yakin bahwa dengan kesungguhan tekat, kedisiplinan amal, kejelian siasat dan satu lagi dia tidak mengenal istilah putus asa. Karena putus asa tidak ada dalam kamus orang-orang yang berjaya.

Sebagian besar orang memandang bahwa biarkanlah roda kehidupan ini berputar seperti adanya, biarkanlah aku mengikuti arusnya. Tanpa adanya usaha untuk membendung arus dan memutar arahnya padahal mereka tahu arus yang akan mereka lalui tak jarang membawa mereka ke komunitas orang-orang yang gagal dalam hidup, hidup hampa tanpa arah dan tujuan. Mereka hidup hanya untuk menghabiskan sisa waktu hingga waktupun enggan menyapanya. Maka mereka termasuk orang-orang yang gagal.

Merumuskan impian dan melukiskannya dan kemudian mencari arah untuk membidiknya adalah fase perjalanan orang-orang yang berjaya. Impian itulah yang menjadi pondasi arah geraknya dalam mengarungi bahtera kehidupan yang begitu rumit ini. Kapan saatnya ia diam, kapan saatnya ia bicara, kapan saatnya ia maju, kapan saatnya ia mundur, dan kapan saatnya ia bergerak semua telah terumuskan. Tinggal kesungguhan ikhtiar untuk merealisasikannya dan kesabaranlah yang akan menjadi penentunya. Man jadda wajadda...insyaAllah.

Selain kesempurnaan ikhtiar tentunya kesempurnaan tawakal juga menjadi tuntutan yang berkeinginan menjadi orang-orang berjaya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Rabb adalah inti dari ikhtiarnya. Terkadang manusia lupa untuk menghadirkan 4JJI dalam setiap napas perjalanan impiannya lalu akibatnya muncul komunitas-komunitas yang sombong terhadap apa telah mereka raih...sehingga mereka berpendapat bahwa semua hasil yang ia dapat sekarang adalah murni dari jerih payah usaha mereka sendiri tanpa campur tangan yang kuasa...Bukankah perjalanan Sya'labah, Qorun, Fir'aun bisa menjadi pelajaran berharga bahwa kesombongan menghantarkan dan menyeret mereka ke lembah kegagalan total. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua.Selain kesempurnaan ikhtiar tentunya kesempurnaan tawakal juga menjadi tuntutan yang berkeinginan menjadi orang-orang berjaya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Rabb adalah inti dari ikhtiarnya. Terkadang manusia lupa untuk menghadirkan Allah dalam setiap napas perjalanan impiannya lalu akibatnya muncul komunitas-komunitas yang sombong terhadap apa telah mereka raih...sehingga mereka berpendapat bahwa semua hasil yang ia dapat sekarang adalah murni dari jerih payah usaha mereka sendiri tanpa campur tangan yang kuasa...Bukankah perjalanan Sya'labah, Qorun, Fir'aun bisa menjadi pelajaran berharga bahwa kesombongan menghantarkan dan menyeret mereka ke lembah kegagalan total. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua.

Teruslah bermimpi karena mimpi adalah salah satu pembeda atara orang sukses dan orang gagal.Dan yakinlah bahwa kita mampu mewujudkan segala mimpi kita.Sebagian besar orang memandang bahwa biarkanlah roda kehidupan ini berputar seperti adanya, biarkanlah aku mengikuti arusnya. Tanpa adanya usaha untuk membendung arus dan memutar arahnya padahal mereka tahu arus yang akan mereka lalui tak jarang membawa mereka ke komunitas orang-orang yang gagal dalam hidup, hidup hampa tanpa arah dan tujuan. Mereka hidup hanya untuk menghabiskan sisa waktu hingga waktupun enggan menyapanya. Maka mereka termasuk orang-orang yang gagal.

Merumuskan impian dan melukiskannya dan kemudian mencari arah untuk membidiknya adalah fase perjalanan orang-orang yang berjaya. Impian itulah yang menjadi pondasi arah geraknya dalam mengarungi bahtera kehidupan yang begitu rumit ini. Kapan saatnya ia diam, kapan saatnya ia bicara, kapan saatnya ia maju, kapan saatnya ia mundur, dan kapan saatnya ia bergerak semua telah terumuskan. Tinggal kesungguhan ikhtiar untuk merealisasikannya dan kesabaranlah yang akan menjadi penentunya. Man jadda wajadda...insyaAllah.

Selain kesempurnaan ikhtiar tentunya kesempurnaan tawakal juga menjadi tuntutan yang berkeinginan menjadi orang-orang berjaya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Rabb adalah inti dari ikhtiarnya. Terkadang manusia lupa untuk menghadirkan 4JJI dalam setiap napas perjalanan impiannya lalu akibatnya muncul komunitas-komunitas yang sombong terhadap apa telah mereka raih...sehingga mereka berpendapat bahwa semua hasil yang ia dapat sekarang adalah murni dari jerih payah usaha mereka sendiri tanpa campur tangan yang kuasa...Bukankah perjalanan Sya'labah, Qorun, Fir'aun bisa menjadi pelajaran berharga bahwa kesombongan menghantarkan dan menyeret mereka ke lembah kegagalan total. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua.Selain kesempurnaan ikhtiar tentunya kesempurnaan tawakal juga menjadi tuntutan yang berkeinginan menjadi orang-orang berjaya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Rabb adalah inti dari ikhtiarnya. Terkadang manusia lupa untuk menghadirkan Allah dalam setiap napas perjalanan impiannya lalu akibatnya muncul komunitas-komunitas yang sombong terhadap apa telah mereka raih...sehingga mereka berpendapat bahwa semua hasil yang ia dapat sekarang adalah murni dari jerih payah usaha mereka sendiri tanpa campur tangan yang kuasa...Bukankah perjalanan Sya'labah, Qorun, Fir'aun bisa menjadi pelajaran berharga bahwa kesombongan menghantarkan dan menyeret mereka ke lembah kegagalan total. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua.

Teruslah bermimpi karena mimpi adalah salah satu pembeda atara orang sukses dan orang gagal.Dan yakinlah bahwa kita mampu mewujudkan segala mimpi kita.


Read More …


Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak-gerak secepat mungkin.

Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat.

Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat aku akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."

Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat.

Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, aku takkan pernah mau kembali ke sini lagi."

Semua wajah yang ada di dunia ini adalah cermin wajah kita sendiri. Wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang kita jumpai?


Read More …


Kasih sayang merupakan fitrah manusia yang dianugerahkan oleh sang Khalik kepada manusia untuk menjaga kelangsungan jenisnya. Fitrah ini adalah manisfestasi dari adanya naluri mempertahankan jenis (gharizah nau’) yang terdapat dalam diri manusia. Dengan fitrah inilah kehidupan manusia terus berjalan sejak nabi Adam as. hingga kini. Hanya saja ketika fitrah ini tidak diatur oleh aturan yang benar tentunya tidak akan menghantarkan kepada tujuan dari diciptakan fitrah ini bahkan justru akan merusak. Lebih jauh lagi hal ini akan menghantarkan manusia pada kegelisan dan ketidaktentraman dalam menjalani hidup.

Memasuki bulan Februari ini ada satu tema besar yg berkaitan dengan ekspresi perasaan kasih sayang yang terus menerus d propagandakan oleh para kapitalis beserta para pembebek-pembebeknya untuk meracuni ruang romantisme kita. Padahal, kasih sayang yang diajarkan oleh ritual mereka, yang biasa disebut Valentine Day, hanyalah kasih sayang semu. Karena kasih sayang yang mereka maksud adalah hubungan antar lawan jenis yang didasarkan hawa nafsu biologis semata sebagaimana ritual yang biasa dilaksanakan oleh paganis Romawi kuno dengan peringatan Lupercalia-nya. Kasih sayang yang mereka propagandakan adalah pernyataan kosong (klise) yang tak pernah terbukti dalam kehidupan mereka. Lihatlah penjajahan yang mereka lakukan hari ini di Afghanistan, Irak, suport terhadap israel, dukungan pada penguasa-penguasa diktator dan kriminal-kriminal internasional. Lebih jauh lagi pernyataan ini merupakan ungkapan tipu muslihat untuk menutupi kepentingan mereka yang sesungguhnya yaitu penyebaran ideologi Kapitalisme.

Secara historis, sebenarnya perayaan valentine day ini bermula dari kisah St. Valentinus yang tak lebih dari sebuah legenda yang pernah dicoba untuk dihapuskan dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya tidak jelas dan hanya berbasis legenda saja.

Dalam perkembangan selanjutnya peringatan Valentine didukung oleh negara-negara Kapitalis Barat (seperti AS dan Inggris) untuk disebarkan keseluruh dunia Dengan dukungan penuh media massa yang umumnya disokong oleh para kapitalis besar lewat iklan-iklan seperti surat kabar, radio maupun televisi, perhelatan besar pun diadakan dengan tujuan mencekoki generasi muda dengan iklan-iklan valentine day baik bermotif bisnis maupun ideologis. Makanya tak heran bila menjelang bulan Februari ini kita menemukan jargon-jargon (simbol-simbol atau iklan-iklan) yang mengekspos atau mempromosikan Valentine di mana-mana.

Saat ini, peringatan Valentine menjadi salah satu alat yang digunakan Barat (Kapitalisme) untuk menyebarkan paham-paham liberal. Hal ini berkaitan dengan konspirasi Barat untuk menjajah dunia Islam (kenapa islam? Karena islam anti kapitalisme) dengan melakukan liberalisasi pergaulan pada generasi muda kita yang ujung-ujungnya menyibukkan diri kita dengan hal-hal yang sepele. Dengan menanamkan budaya persmisif hedonis yang tak bertanggungjawab. pihak kapitalis bermaksud untuk melenakan dan memalingkan generasi muda dari cengkraman-cengkeraman (penjajahan) meraka yang secara sistematis mengeksploitasi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia di seluruh dunia.

Diterimanya budaya valentine day saat ini pada dasarnya bukan karena adanya kebenaran di dalam nilainya. Diterimanya budaya ini lebih karena hegemoni dan dominasi peradaban Barat atas peradaban dunia saat ini. Dominasi ini telah menjadikan apapun yang datang dari Barat pasti benar adanya. Apa yang menurut Barat baik maka itu adalah kebaikan. selain itu, bertahannya budaya valentine day ini tak lebih juga dikarenakan akutnya mental inlander. (terjajah) dan membebek dari generasi muda Islam saat ini


Read More …


Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki : selamanya memberi yang bisa kita berikan,selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. -M. Anis Matta-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..


Read More …

Malam itu kembali terbayang,Sesosok wajah yang penuh pesona.Wajah yang tak mungkin mudah untuk dilupakan, karena begitu banyak kenangan bersamanya,mungkin karena melihat kepribadiannya lah aku bisa lebih mengenal tentang indahnya Islam.

Senang,khawatir,cemas,ragu,semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu di dalam hati ini.Bisa dibilang ini perasaan lama yang sempat ingin tuk dilupakan.Namun beberapa hari ini bangkit kembali.

Tapi ada sebuah pertanyaan besar yang hinggap dalam hatiku.Apakah ini yang namanya cinta atau hanya sebatas nafsu semata.Yaa Allah hanya kepadaMu lah hambaMu ini memohon perlindingan.Jagalah cinta ini agar tetap hanya karenaMu,bukan karena nafsu sesaat.

Yaa Allah periharalah cinta ini hingga suatu saat nanti kami bisa berjuang bersama,Amiin


Read More …