It's Time to Change

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya.

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami.
Rukunkan antar hati kami Tunjuki kami jalan keselamatan.
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang.
Jadikan kumpulan kami jama'ah orang muda yang menghormati orang tua.
Dan jama'ah orang tua yang menyayangi orang muda.
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman.
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar.
Wahai yang menyambung segala yang patah.
Wahai yang menemani semua yang tersendiri.
Wahai pengaman segala yang takut.
Wahai penguat segala yang lemah.
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah.
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran.
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak.
Engkau Maha Tahu dan melihatnya.

Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu.
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu.
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur.
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus.
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami.
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami.
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara.
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana pada kami.
"ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih"

Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu.
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu.
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu.
Adil pasti atas kami keputusan-Mu.

Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu.
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu.
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu.
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu.
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu.
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib.
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur'an yang agung.
Sebagai musim bunga hati kami
Cahaya hati kami.
Pelipur sedih dan duka kami.
Pencerah mata kami.

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang menenggelamkan dunia.
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir'aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam, dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara

Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami.
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri.
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti. Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu.
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab.
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati, ummatku ummatku.
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan.
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera.
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami da'i penyeru iman.
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala.
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da'wah.
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran.
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini.
Kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini.
Dengan sikap malas dan enggan berda'wah.
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa.

Dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan
Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998, yang diiringi oleh tetesan air mata hadirin.
Read More …

Saudara2 ku yang semoga senantiasa didalam keridhoan Allah Subhanahu wa ta’ala, sekali saya sengaja mengangkat thema ini, yaitu tentang bulan Ramadhan, yang Insya Allah akan hadir kembali, bulan yang membawa berjuta keberkahan dan kebaikan sebagaimana lazimnya setiap kali dating, tak ada yang kurang sedikitpun, kecuali usia kita yang pasti terus berkurang, yang mengisyaratkan bahwa semakin berkurang jatah pertemuan kita dengan bulan lautan pahala dan bulan pelebur dosa.



Kita tidak tahu kapan jatah kita berakhir, dan ramadhan mana yang menjadi penutup dari ramadhan-ramadhan yang telah kita lalui, mungkin lima , sepuluh tahun lagi Ramadhan terakhir itu yang akan kita jumpai. Tetapi mungkin pula, justru Ramadhan tahun inilah penutup kebersamaan kita dengan bulan Ramadhan, atau barangkali justru kita tidak punya kesempatan menyambut datangnya bulan yang penuh dengna kemiliaan tesebut, kita tidak tahu, semua kembali kepada Allah yang Maha Kuasa yang mengatur segalanya.



Saudaraku, Jika Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk menyambut dan merayakan datangnya bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan pahala, dengan kegembiraan serta iman yang teguh, selayaknyalah benar-benar kita manfaat moment ini dengan sebaik-baiknya, sehingga kita tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan tahun-tahun yang lalu yang harus kehilangan bulan Ramadhan tanpa meninggalkan bekas di hati, jiwa, ibadah dan amal kita. Ia Pergi meninggalkan kita , sedangkan kita belum sempat berbuat apa-apa. Inilah kondisi yang umum terjadi menerpa kita.



Marilah kita manfaatkan Ramadhan kali ini dengan meminimalkan kesalahan dan kegagalan kita pada Ramadhan lalu, berikut ini kiat-kiat yang bias kita lakukan :


1. Tak ada yang tahu batas usia kita.

Kebersamaan bersama Ramadhan tidaklaha selamanya dan kesempatan itu terbatas yang datang hanya setahun sekali, sebatas hidup kita di dunia. Itupun harus dikurangi dengan jatah masa kanak-kanak, dimana kita belum mengerti apa itu hakekat Ramadhan, belum lagi dimasa jahiliyah kita yang penuh dengan kelalaian yang sering kali melewatkan Ramadhan tanpa apa-apa, ditambah lagi dengan kondisi-kondis sulit lainnya yang terkadang datang dan mengurangi kebersaamaan kita dengannya, seperti dalam perjalanan, atau sakit keras misalnya yang mengurangi jatah kita meraih kenikmatan bersama Ramadhan.

Mari kita berhitung, hingga sejauh umur kita sekarang ini, berapa Ramadhankah yang berhasil kita selesaikan dengna baik?

Rasulullah SAW sepanjang usianya hanya sembilan kali menghabiskan waktunya bersama Ramadhan, akan tetapi meskipun hanya sembilan kali, beliau benar-benar memaksimalkan kebersamaan itu.


2. Jagan Bosan Mempelajari Keutamaan dan Keistimewaan Ramadhan

Bersabar dalam mencari dan merengkuh keistimewaan dan keutamaan Ramadhan mungkin terasa sulit bagi kita. Pasalnya, setiap detik yang kita temui dibulan itu sama saja dengan detik-detik yang kita lewati dari waktu kewaktu. Tidak ada kesan khusus yang indah dan menarik, akhirnya semua berjalan biasa saja, hari demi hari kita lalui tanpa prestasi ibadah dan amal yagn bias dibanggakan, padahal banyak orang lain disekitar kita tampak penuh semangat mengejar target-target tilawahnya, infak dan shodaqohnya, sholat malamnya dan sederetan amal-amal sunnah lainnya. Tetapi antusiasme mereka yang mengagumkan itu tidak punya daya magnet untuk menarik kita kedalam amal-amal sebagaimana yang mereka lakukan.



Jika demikian, mungkin kita perlu berhenti sejenak, merenung dan sambil mencari tahu, barangkali karena kita belum begitu akrab dengan Ramadhan. Kita buka tabir-tabir ketidaktahuan kita harus kita singkap dengan banyak belajar, membaca dan dengan cara apapun agar kesalahan kita di Ramadhan yagn lalu tidak kita ulangi pada Ramadhan-ramadhan berikutnya, sebab Ramadhan adalah musim semi bagi pohon iman, setelah selama sebelas bulan daun-daunnya berguguran ditimpa kemarau ibadah, ranting-rantingnya nyaris patah diterpa angina maksiat. Ramadhan datang untuk mengembalikan keindahan pohon iman dengan memberikan buah ketaqwaan yang memungkinkan pemiliknya berada dalam keadaan taqwa sepanjang tahun, sampai datang Ramadhan berikutnya.


3. Agar tidak timbul penyesalan, Ketika berakhirnya Ramadhan .

Ramadhan adalah kesempatan berharga yang tidak datang setiap saat, dan ingat ! kedatangnya tidak menunggu kesiapan dan keluangan waktu kita. Maka, kitalah yang harus meluangkan waktu dan menyiapkan diri menyambutnya, beramal didalamnya sebanyak-banyaknya, agar ketika berlalu tidak timbul penyesalan yang dalam karena kelalaian kita sendiri.

Imam Ahmad ra. Apabila Ramadhan tiba, lelaki alim yang tekun beribadah ini memasuki masjid dan menetap didalamnya. Disana ia bertasbih dam beristighfar, setiap kali wudhunya batal, ia selalu memperbaharui wudhunya dan tidak pernah pulang kerumahnya kecuali untuk makan, minum dan tidur. Ia berkata, ”Bulan ini adalah bulan yang akan emnghapus dosa-dosa, kami tidak ingin menyamakannya dengan bulan-bulan yang lain yang terkadang kami isi dengan perbuatan maksiat, salah dan dosa.”

Lihat pula Imam Malik ra. Jika ia telah memasuki bulan Ramadhan. Ia menutup kitab-kitabnya, tidak berfatwa dan tidak melayani diskusi dengan orang lain. Ia hanya mengambil Al Qur’an dan berkata, “Bulan ini adalah Bulan ramadhan, bulannya Al Qur’an.” Ia lalu menuju ke masjid dan menetap didalamnya, memperbanyak sholat, tilawah dan dzikir sampai bulan ramadhan berlalu.

Imam Ahmad dan Imam Malik melakukan itu karena mereka sadar, Ramadhan itu sangat mahal dan terbatas, sebatas hidup mereka didunia. Mereka harus beribadah lebih banyak dibulan itu supaya tidak menyesal karena kehilangan kesempatan yagn sangat berharga.



4. Bekal Perjalanan kita yang jauh ada di Sini.

Ibarat ladang, Ramadhan adalah tanah yang sangat subur, apapun yang ditanam akan tumbuh subur dengan hasil yang berlipat ganda. Disinilah tempat kita mengumpulkan dan menyimpan bekal sebanyak-banyaknya untuk sebuah perjalanan yang sangaat panjang. Karena dibulan itu setiap amal akan dilipatgandakan. Ibadah sunnah akan sama nilanya dengan ibadah wajib diluar Ramadhan. Karena itu apalagi yang kita tunggu? Apakah kita menunggu usia kita yang belum tentu kita merasakannya? Apakah kita akan menunggu hingga kita memiliki harta banyak?

Janganlah kita berjudi dengan sesuatu yang tidak pasti, lalu dengan sadar kita meninggalkan kesempatan mengumpulkan bekal untuk perjalanan yang maha panjang, menuju stasiun akhirat.



5. Kita harus menjadi yang terbaik.

Ramadhan adalah milik semua orang yang beriman, yaitu orang-orang yang percaya dan mengakui Allah SWt sebagai Rabb satu-satunya dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya serta meyakini kewajiban-kewajiban yang diperintahkan.

Ibarat sarana lomba, Ramadhan datang dan memberi kita kesempatan yang sama dengan yang lain. Tidak ada diskriminasi sedikitpun. Tidak ada yang boleh melangkah lebih dulu, atau sekedar menunda walau dengan alas an apapun. Modal utama kita hanya stamina keimanan masing-masing agar pada langkah pertama kita terlihat lebih gesit dan mampu bertahan hingga usai lomba.

Dalam lomba kita menginginkan prestasi terbaik, keluar sebagai pemenang, atau paling tidka kita ebrada pada barisan peserta yang berhasil menyelesaikan lomba dengan hasil baik.Kita tidak ingin termasukorang-orang yang gagal, tersisih jauh di belakang sehingga kita tidak mampu mencapai finish.

Kita tidak boleh gagal, karena kegagalan akan mengecilkan kita dimata manusia, dan kegagalan di Bulan Ramadhan akan lebih menghinakan kita di mata Dzat yang menciptakan manusia.

Hasan Al Bashri berkata,”Allah telah menjadikan Ramadhan sebagai arena pertandingan makhluk-makhluk Nya. Mereka berlomba dengan ketaatan demi meraih ridho-Nya. Sebagian berhasil dan keluar sebagai pemenang, sebagian lagi meninggalkan ketaatan itu dan merepun merugi. Sungguh mengherankan orang yang tertawa dengan kelalaian pada hari ketika kemenangan hanya bagi mereka yang berbuat baik and kerugian bagi orang-orang durhaka.”
Read More …

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah."Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, " kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. 

"Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.

" Diluar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii!" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa baarik wa sallim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Note:
Apakah kita sudah mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan RasulNya mencintai kita.Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.
Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihimu di akhirat.
Read More …

Berbagai hasil penelitian di barat menunjukkan bahwa kecemasan dan stress ternyata menjadi pembunuh nomor satu, jauh diatas penyakit jantung, kanker dan penyakit-penyakit berbahaya lainnya.

Banyak ahli-ahli di barat yang berupaya mencarikan jalan pemecahan terhadap gangguan psikis itu. Namun umumnya mereka bertolak dari paham materialisme sehingga mengedepankan materi. Mereka tidak mau mengambil jalan Tuhan atau Keimanan. Akibatnya solusi yang mereka berikan tidak tuntas.

Padahal, bila iman telah meresap dalam hati, tentu akan menghidupkan hati yang mati dan membangkitkan ketentraman serta ketenangan. Bagi seorang muslim, keimanan yang meresap kedalam hati akan membentuk perilaku dengan pondasi-pondasi yang kukuh dan dasar-dasar yang luhur. Pikiran yang cerah, bersih dan cemerlang yang senantiasa dihiasi oleh iman akan serta merta membawa seorang muslim pada sebuah langkah hidup yang tenang, mulus dan lurus. Itulah yang dinamakan pikiran positif.

Buku ini berisi petunjuk untuk membangun pikiran positif secara islam, termasuk kedalamnya adalah kiat menghilangkan cemburu dan penyakit hati lainnya; terbebas dari rasa sedih, cemas dan takut gagal; menjadi sosok yang sukses dan berbeda; serta ikhlas, ridha dan tawakal atas langkah yang telah diambil. Seluruhnya terangkuim dalam 18 kiat praktis yang gampang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kiat-kiat itu adalah :
1. Luruskan pikiran anda
2. Tinggalkan perfeksionisme
3. Hilangkan rasa cemburu
4. Jadilah sosok berbeda
5. Hilangkan penyakit hati
6. Cintailah orang lain seperti mencintai diri sendiri
7. Jangan sedih dengan masa lalu, pikirkan masa kini
8. Jangan berfikiran statis
9. Hilangkan perasaan takut gagal
10. Ridha dengan takdir Allah
11. Berbudi baik kepada orang lain
12. Dengan ikhlas, terbebas dari kecemasan
13. Dalam kesulitan ada kemudahan
14. Lihatlah orang-orang dibawah anda
15. Menghilangkan sedih dan cemas dengan memikirkan ciptaan Allah
16. Sholat, obat segala kesusahan
17. Istigfar menghilangkan kesusahan dan kecemasan
18. Berdoa dengan Ismul A’zham
Read More …

Wanita:
Mengapa kamu menyukai saya?
Mengapa kamu mencintai saya?

Pria :
Saya tidak dapat menjelaskannya alasannya...
tetapi saya sungguh menyukai kamu

Wanita :
Kamu bahkan tidak dapat memberikan alasan kepada saya,
bagaimana kamu dapat berkata kamu menyukai saya ?
bagaimana kamu dapat berkata kamu mencintai saya ?

Pria :
Saya sungguh tidak tau alasannya,
tetapi saya dapat membuktikan bahwa saya mencintai kamu.

Wanita :
Bukti? Tidak! Saya mau kamu menjelaskan alasannya.
Pacar kawan saya dapat berkata kepada kawan saya
bahwa dia mencintai kawan saya, tetapi kamu tidak dapat!

Pria :
Ok ok!!!! Hmm karena kamu cantik,
karena suaramu enak didengar,
karena kamu penuh perhatian,
karena kamu mengasihi,
karena kamu bijaksana,
karena senyummu,
karena setiap gerakanmu.

Sayangnya, beberapa hari kemudian,
sang cewek mengalami kecelakaan dan mangalami koma.
Sang cowok kemudian menaruh surat di sisinya,
dan isinya sebagai berikut :

Kekasihku,
Karena suaramu yang merdu saya mencintaimu...
sekarang dapatkah kamu berbicara?
Tidak!
oleh karena itu saya tak dapat mencintaimu.
Karena kamu penuh perhatian dan peduli
maka saya menyukaimu...
Sekarang kamu tidak dapat menunjukkannya,
oleh karena itu saya tak dapat mencintaimu.

Karena senyummu,karena setiap gerakanmu
maka saya mencintaimu.
Sekarang dapatkah kamu tersenyum?
Dapatkah kamu bergerak?
Tidak!
Karena itu saya tak dapat mencintaimu.

Jika cinta memerlukan alasan,
seperti sekarang,
maka tidak ada alasan lagi bagi saya untuk mencintai kamu lagi.
Apakah cinta memerlukan alasan?
TIDAK!
Oleh karena itu, saya masih tetap mencintaimu
dan Cinta tidak memerlukan alasan.

Tetapi jika cinta tetap memerlukan alasan...
maka alasannya hanya satu...
Aku Mencintaimu karena Allah...
Read More …

Betapa Malangnya Negriku
Banyak pertanyaan yang muncul dari benak kita semua. Negara Indonesia yang notabene sebagai Negara yang makmur, tetapi rakyatnya tidak makmur.Apa gerangan yang terjadi pada Negara kita yang tercinta ini.
Polemik diatas terjadi karena salah satunya adalah rakyat Indonesia telah banyak berbuat maksiat. Kebanyakan dari mereka beragama Islam tetapi hanya sebagai identitas. Negara kita ini adalah Negara Islam terbesar dengan 80% penduduknya beragama Islam, tetapi mari kita lihat apakah masjid-masjid penuh dengan jama’ah?

Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh orang-orang Islam kebanyakan. Mereka mengakui bahwa Allah SWT adalah rabb mereka tetapi mereka juga menghadirkan rabb selain Allah SWT. Mereka merasa belum tenang jika mereka belum menanamkan kepala kerbau dibangunan baru, mereka akan merasa was-was jika belum meralung sesajen ke pantai selatan, mereka belum merasa tenang jika melum berkonsultasi ke mbah Marijan tentang gunung Merapi, dan masih banyak lagi kesesatan-kesesatan yang dilakukan oleh orang-orang Islam.

Orang-orang Islam dinegara ini telah banyak dibodohi, coba anda tanyakan kepada arsitek, apakah menanam kepala kerbau dapat memperkokoh bangunan, sudah barang tentu jawabannya tidak. Pembodohan tersebut rupanya belum ada tanda-tanda akan menyurut, bahkan sepertinya semakin marak. Progran Pemburu Hantu contohnya, actor-actornya adalah orang berpakaian jubah plus sorban dan berdandan layaknya masyayikh. Mereka berlagak bak sedang berkelahi dengan makhluq halus, setelah dirasa cukup mereka berlagak memasukkan sesuatu ke dalam botol. Sungguh pembodohan umat secara massal. Selain Pemburu Hantu, masih banyak lagi acara TV yang merusak aqidah dan memuat pembodohan masyarakat, diantaranya Eneng, si Entong, dll. Acara-acara tersebut selain membuat takut kepada hal-hal yang tidak jelas, juga mempengaruhi mental seseorang. Mudah marah, malas, cepat putus asa, ingin segala sesuatu siap, dll.

Jadi, agar generasi kita selamat, dan tidak menambah keterpurukan negri kita, mari kita berusaha untuk mempersiapkan diri kita dalam peranan yang ingin kita jalani. Jauhi kebanyakan pemborosan waktu seperti menonton TV, membicarakan hal-hal yang tidak berguna, dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak bermanfaat.
Gunakanlah waktu sebaik mungkin karena waktu adalah pedang, berilah pencerahan kepada masyarakat-masyarakat yang belum mengerti jika anda sudah mengerti karena itu merupakan tanggung jawab anda. Selamat berjuang!!!
Allahu Akbar!!!
Read More …

Kita sering mendengar para da’i dan khatib menganjurkan kepada umat Islam untuk tidak menjual aqidahnya dengan kehidupan yang fana. Mereka biasanya mencontohkan umat Islam pinggiran yang mau menukarkan aqidahnya hanya dengan sekardus mie instant dan uang seratus ribu rupiah. Perlu diingat bahwa berbicara memang mudah akan tetapi mengamalkannya merupakan hal yang sulit. Para da’i tersebut dapat dengan mudahnya berceramah seperti itu dan merasa tidak akan pernah sudi menjual aqidahnya dengan mie Instant karena mereka perut mereka dalam keadaan kenyang.
Read More …

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu.

Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. "Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah".

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, "Ummi undzur ila Ka'bah
(Bu, lihatlah Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya. Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan. Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa minit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Begitulah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka'bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kmebali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya. Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka'bah. Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.

Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap.

Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.

Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka'bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka'bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya.

Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya. Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat).

Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci.

Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.

"Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele," kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon.

"Ustaz, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit," cerita Sarah akhirnya. "Oh, bagus..... Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia," potong ulama itu. "Tapi saya mencari wang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram," ungkapnya terus terang.

Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian. "Disana...." sambung Sarah, "Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka."

Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah. "Astagfirullah......" betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.

Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi. "Cuma itu yang saya lakukan," ucap Sarah.

"Cuma itu ?" tanya ulama terperangah. "Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !". ucap ulama dengan nada tinggi.

"Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?" tanya ulama itu lagi sedikit kesal. "Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati." "Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama "Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir." "Maksudnya ?". tanya ulama tidak mengerti. "Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati ."

"Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan."

Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah. "Cuma itu yang kamu lakukan ?". "Masya Allah....!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan". Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata, "Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda." Bumi menolaknya Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah telah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.

"Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelepon ustaz," ujar Hasan Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut. "Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?". tanya ulama itu. Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas izin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang.

Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayat. Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga selesai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang. Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak mahu meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri. Dengan izin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menyorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya," Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah !". kata orang itu.

Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya. "Aku minta supaya kau jangan menengok ke belakang, sampai tiba di rumahmu, "pesan lelaki itu. Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan ke jenazah ibunya.

Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dijilat api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa ke wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langkah seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.

Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.

Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan izin Allah akan hilang.

Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allh SWT.

Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Amin
Read More …

Kriiiing, kriiiiing,kriiiiing, pak pos lewat tepat di depan sekumpulan akhwat yang sedang LIQO’ ( ngaji ), tiba-tiba pak pos menghampiri mereka
“assalamu’alaikum”
“waa’alikumussalam” jawab akhwat serempak
“afwan, ukhti… ini ada surat untuk mujahidah” kata pak pos
“ooooh… syukron pak”
“ya.. afwan” jawab pak pos singkat, sesingkat beliau mampir ke tempat itu
“assalamu’alaikum” pamit pak pos
“wa’alaikum salam” jawab jilbaber serempak

tak sabaran merekapun membuka surat yang baru saja di terimanya
bereweeeek, sebuah amplop berwarna pink di sobek, lalu seorang murobbiyah pun membacanya, dan mutarobbbiyah khusyu mendengarkannya

“ assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh “ seuntai kata dari surat itu mulai di baca
“wa’alaikum salam warahmatullahi wabaraktuhu” jawab jilbaber lagi-lagi kompak
“ukhti… yang di nantikan syurga “ satu persatu murobbiyah mulai mengalirkan kata-kata surat yang di bacanya

 Ukhti…Besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju ridho tuhanmu,mungkinkah besarnya kerudungmu hanya di gunakan sebagai fashion atau gaya jaman sekarang, atau mungkin kerudung besarmu hanya di jadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan ikhwan yang di idamkan bahkan bisa jadi kierudung besarmu hanya akan di jadikan sebagai identitasmu saja, supaya bisa mendapat gelar akhwat dan di kagumi oleh banyak ikhwan

 Ukhti…tertutupnya tubuhmu Tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluargamu bahkan diri antum sendiri, coba perhatiukan sekejap saja, apakah aib saudaramu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi, bukankah kebiasaan buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa di sadari melalui ocehan-ocehan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manis mu

 Ukhti…lembutnya suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelembutan suara antum sama dengan lembutnya ksasihmu pada sauadaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu

 Ukhti…lembutnya Parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa seklaipun dengan tetes darah terakhir, akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain.

 Ukhti…Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan shalat malammu, mungkinkah malam-malammu di lewati dengan rasa rindu menuju tuahnmu dengan bangun di tengah malam dan di temani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan, atau sebaliknya, malammu selalu di selimuti dengan tebalnya selimut setan dan di nina bobokan dengan mimpi-mimpi jorokmu bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.

 Ukhti…Cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang entum dapatkan, ataukah antum tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang snagat mengerikan yaitu maksiat

 Ukhti…cantiknya wajahmumu tidak menjamin kecantikan hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan diri antum sendiri, pernahkah antum menyadari bahwa kecantikan yang antum punya hanya titpan ketika muda, apakah sudah tujuh puluh tahun kedepan antum masih terlihat cantik, jangan-jangan kecantikanmu hanya di jadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukan hati ikhwan dengan senyuman-senyuman busukmu

 Ukhti…tundukan pandanganmu yang katuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan semangatmu untuk beranui menundukan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuuh yang akan antum hadapi mulai dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu,

 Ukhti…tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu teerhadapa warga sesamamu mu yang tertindas di palestina, pernahkah antum menangis ketika mujhaid-mujahidah kevil tertembak mati, atau dengan cuek bebk membiarkan begitu saja, pernahkah antum merasakan bagaimana rasanya baerjihad yang di lakukan oleh para mujahidah-mujahidah teladan

 Ukhti…lirikan mamatamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat, coba antum perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman,saudara bahkan keluarga antum sendiri belum merasakan manisny islam dan iman mereka belum merasakan apa yang antum rasakan, bisa jadi salah satu dari kleuargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan berprlikaku binatang yang tak karuan, sanggupkah antum menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang kamu rasakan yaitu betapa lezatnya hidup dalam kemulyaan islam

 Ukhti…tebalnya kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada sang khalolikmu, antum adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengiontai dari semua penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua setan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan terobrak abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul di jaga olehmu, banyak cara yang harus antum lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya di lakuakn sejak dari sekarang, kapan lagi coba….

 Ukhti…Putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keleuargamu sendiri, masih kah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah antum membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah di raih dan merasa diri paling wah, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas di tas rata-rasat akhwat yang lain, sesombong itukah haitmu, lallu di manakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu

 Ukhti…rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infakmu ke mesjid atau mushola, sadarkah antum kalo kotak-kotak nongkrong di masjid masih terliat kosongdan menghawatirkan, tidakkah antum memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun infaq, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang antum masukan, maukah antum di beri rizki sepelit itu.

 Ukhti…rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunanah senin kamis yang antum laksanakan , kejujuran hati tidak bisa di bohongi, kadang semangat fisik begitu bergelora untuk di laksankan tapi, semanga tr uhani tanpa di sadari turun drastic, puasa yaumul bith pun terlupakan apalagi puasa senin kamis yang di rasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati antum, makanan fisik yang antum pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi


 Ukhti…manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kaishmu terhadap sesamamu, kadang sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang antum lewati, sikap ramahmu pada orang antum temui sangat jarang terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuex dan menyebalkan, kalau itu kenyataanya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan banyak kader, ingat!!! Dakwah tidak memerlukan antum tapi… antumlah yang memerlukan dakwah, kita semua memrlukan dakwah

 Ukhti…rajinnya shalat malammu tidak menjamin keistiqomahan seperti rosulullah sebagai panutanmu,

 Ukhti…ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap sang kholikmu, masihkah antum senang bermanjaan dengan tuhanmu dengan shalat duhamu, shalat malamu?

 Ukhti…dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi, akankah nama harummu di sia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah antum ketika sang mujahid akan segara menghampirimu

 Ukhti…masih ingatkah antum terhadap pepatah yang masih teringiang sampai saat ini bahwa akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik, jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu

 Ukhti…Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga rabbmu.maka, tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu

 Ukhti…muhasabah yang antum lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuan antum yang di lakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu, sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan sebelum tidur, antum tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai kapan akhalk busuk mu di lupakan, kenapa muhasabah tidak di jadikan sebagai moment untuk perbaikan diri bukankah akhwat yang hanya akan mendapatkan ikhwah yang baik

 Ukhti…pernahkah antum bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan pasti, bukankah apa yang antum pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu inging mencari istri yang solehah dan seorang mujahidah, kenapa tidak dari sekarang antum mempersiapkan diri menjadi seorangan mujahidah yang solehah

 Ukhti…apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri antum,seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton tv yang tidak karuan dan hanya kan mengeraskan hati sampai lupa waktu, lupa Bantu o0rang tua, kapan akan menjadi anak yang biruwalidain, kalau memang itu terjadi jadi sampai kapan, mulai kapan antum akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat solehah,

 Ukhti…apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasa n belaka karena merasa berkerudung besar la

 Ukhti… hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah antum menjaga izzah yang antum punya, atau sebaliknya antum bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra akhwat yang laing, kadang orang lain akan mempunyai persepsi di sama ratakan antara akhwat yang sautu dengan akhwat yang lain, jadi kalo antum sendiri membuat kebobrokan akhlak maka akan merusak citra akhwat yang lain

 Ukhti…dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan brandal sekalipun tidak menginginkan istri yang akhlaknya bobrok tapi semua orang menginginkan istri yang solehah, siapkah antum sekarang menjadi istri solehah yang selalu di damba-dambakan oleh semua orang

Selesai membaca, tak terasa murobbiyah dan mutarobbiyah pun mengeluarkan butiran-butiran halus dari matanya, mereka menangis, meratapi dan muhasabah bersama dalam liqo’atnya
Read More …

Kalau kita ibaratkan dengan bermain sepak bola atau bola basket dan yang berlari kencang hanya bagian penyerang, sedangkan bagian gelandang dan pertahanan larinya tidak sekencang penyerang. Apa yang terjadi? Jomplang bukan? Ditonton juga tidak enak. Apalagi sebagai anggota tim, kecepatan yang tidak sama ini akan membuat frustasi dan kehabisan napas untuk bagian tertentu yang berlarinya lebih kencang. Yang nonton lebih frustasi lagi.

Bergerak Seirama
Dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan atau objek, frontliner adalah bagian depan yang tidak bisa sendirian bekerja dan tidak bisa lari “sendiri” dengan kecepatan yang berbeda dengan bagian belakang. Boleh saja berbeda, asal yang belakang bisa mengikuti. Yang terbaik adalah jika semuanya seirama. Teamwork bukan hanya “sharing goals” atau “communicate goals” atau hanya mengerti tujuan dan membagi tugas untuk mencapai tujuan. Namun, yang lebih penting adalah “sharing spirit” atau “motivation” untuk mencapai goal. Ketika spirit anggota tim tidak sama, maka mereka akan merasa kelelahan karena sinergi tidak tercapai.

Ibarat Tarik Tambang
Dalam pertandingan lain yang cukup unik, tarik tambang. Irama dan spirit yang sama menghasilkan suatu keperkasaan yang menakjubkan. Tim yang “all out” terlihat sekuat tenaga sampai tak enggan jatuh bangun untuk menambah kekuatan dan menang. Mengapa ini terjadi? Coba perhatikan, mereka diikat oleh suatu tambang di mana semua anggota berpegangan pada tambang yang sama. Inilah yang membuat perbedaan dengan olahraga lainnya. Jika olahraga lain anggota tim disatukan oleh pelatih yang kuat leadership nya, sedangkan anggota tarik tambang tidak ada pelatih yang mengaba-aba, yang ada hanyalah sistem “ikatan” di mana setiap anggota terkoneksi dengan tambang yang membuat mereka merasa berada di dalam sistem. Dan setiap anggota percaya akan kontribusi anggota lainnya, serta berusaha memberikan yang terbaik. Baik sepak bola, basket maupun tarik tambang, setiap anggota timnya mempunyai peranan yang jelas dan menentukan kemenangan.

Leadership, Sistem dan Keberagaman Peran Anggota
Leadership dan sistem yang bagus, yang searah dan yang mengikat anggota tim inilah yang mampu memotivasi setiap anggota untuk bersama-sama menyumbangkan resources yang mereka miliki untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan.

Di samping punya pemimpin dengan style yang mampu mengkoordinasikan anggota tim, diperlukan juga keberagaman peran anggota tim, bukan keseragaman pendapat. Justru keberagaman ini diperlukan untuk menciptakan “constructive conflicts”, yang membuat keputusan yang diambil tim menjadi berimbang dan berkualitas.

Sistem operasional yang diibaratkan sebagai “tambang” harus mampu mengikat anggota tim, terutama yang bersifat cross functional team. Upayakan agar yang mengikat mereka bukanlah departemental atau divisional vertical line, tetapi sebuah “service chain”. Sebab jika anggota tim tidak sadar bahwa mereka berada di satu tambang, akan sulit bagi mereka untuk mempunyai spirit motivasi yang sama. Bagi para penyeru Al Haq, tambang pemersatu itu adalah agama Allah. Difirmankan Allah SWT di Surat Ali Imran Ayat 103, ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai……” Selamat bekerja!
Read More …