It's Time to Change

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan


Pertengkaran kecil kemarin…cukup jadi lembaran hikmah.. karena aku ingin tetap sahabatmu… mungkin lagu “pertengkran kecil” dan hujan yang turun di malam inilah yang cocok untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi hari ini.Sebuah pertengkaran kecil dengan sahabat dikarenakan keegoisan diri ini.Karena ketidakbisaan diri ini dalam mengatur sebuah amarah dalam diri.

Semoga pertengkaran kecil ini tidak menjadikan sebuah awal dari kehancuran persahabatan kita.Tidak menjadi pemutus tali silaturahim antara kita.Tapi semoga dengan pertengkaran ini bisa menjadikan kita lebih dewasa lagi.Menjadikan kita lebih bisa menjaga perasaan diantara kita.

Mungkin bila kita bisa menyikapi dengan baik permasalahan ini,yakinlah Allah akan memberikan kepada kita hikmah-hikmah yang luar biasa.Yang mungkin saja bisa menguatkan persahabatan kita untuk kedepannya.

Ditulis untuk seorang sahabat,semoga persahabatan kita selalu berada dibawah naunganNya,Amiin



Read More …


Seekor belalang lama terkurung dalam satu kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya.Di perjalanan dia bertemu dengan belalang lain, namun dia heran mengapa belalang itu bisa lompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran dia bertanya,

“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku,padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?” Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan,

“Dimanakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan.”

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Sering kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman,tradisi, dan semua itu membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita.

Sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dgn tali yang terikat pada pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada “sesuatu” yang mengikat kaki nya, padahal “sesuatu” itu bisa jadi hanya seutas tali kecil…

Sebagai manusia kita mampu untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin kita capai. Sakit memang, lelah memang,tapi jika kita sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Pada dasarnya, kehidupan kita akan lebih baik kalau kita hidup dengan cara hidup pilihan kita sendiri, bukan dengan cara yang di pilihkan orang lain untuk kita.


www.emotivasi.com


Read More …


Kesabaran bagi setiap orang mutlak dibutuhkan. Tidak ada segala sesuatu itu instan. Dan instanpun butuh proses. Kalau kita jeli melihat keadaan, di dunia ini tidak ada suatu kejadian yang muncul secara tiba-tiba. Tidak ada kebetulan kebetulan. Suatu kejadian yang kita lihat merupakan hasil dari suatu proses yang mendahuluinya. Hanya dengan merenungi hal ini, kita sudah melatih kesabaran.Cara ini memang agak mendalam dan butuh spiritualitas yang matang. Ada cara lain yaitu dengan cerita,begini nih ceritanya.

Alkisah, ada sepasang suami istri yang telah membina rumah tangga 4 tahun. Suami , sebut saja pak Vick Tior adalah pekerja keras, dan sangat mencintai pekerjaanya. Istri , sebut saja Sian Try adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Sang suami, walaupun sangat mencintai pekerjaannya, namun dia juga sangat rajin mengasah spiritualnya dengan bertemu dengan guru guru spiritual. Suatu hari Sang suami ditugaskan kantornya untuk melihat realisasi proyek di luar kota.
Setelah seminggu di luar kota, tiba saatnya untuk pulang kerumah. Sebelum pulang, dia melihat sebuah padepokan lalu muncullah pikirannya untuk mampir sebentar demi mengurangi kepenatannya. Dia bertemu dengan guru di padepokan tersebut dan dipersilakan duduk. Setelah diberi minum dan saling tegur sapa, dia bertanya kepada guru spiritual ini. Guru, bagaimana cara melatih kesabaran? "kata Vick Tior. Lalu Guru menjawab," Mau secara teori atau praktik". Vick Tior bingung, lalu bertanya, "emang kalau teori bagaimana dan praktik bagaimana?" Begini, kata Guru, "Kalau teori, saat anda menghadapi hal yang membuat anda marah, cukup katakan dalam hati " sabar, sabar, sabar, sabar, sabar, sabar, sabar," sampai 7 set. Jadi intinya 49 kali. Maka pada kata ke 49, anda sudah sabar. (ya iyalah, paling tidak kita akan diam selama mengucapkan kata kata itu selama kurang lebih 1 menit).

Vick Tior lalu bertanya;" Lalu kalau praktik bagaimana?" Guru menjawab;"Kalau praktik begini, jika anda menghadapi hal yang membuat anda marah, anda harus praktik jalan tujuh langkah kedepan, sambil setiap langkah mengucapkan dalam hati "Sabar". dan Mundur sebanyak 7 langkah kebelakang, sambil setiap langkah mengucapkan dalam hati "Sabar". Setelah beberapa lama ngobrol, akhirnya Vick Tior pamitan pulang.

Dalam perjalanan pulang, Vick Tior masih merenungi kata kata sang Guru tadi sambil mengangguk angguk, sambil sesekali tersenyum. Sambil melamun, kira kira istri masak apa ya? lagi ngapain dia ya? wah kangen banget nich. Nggak lama kemudian, tibalah sampai di rumah. Agak heran, kok rumah sepi, sesekali terdengar suara yang agak asing dari dalam kamar istrinya. Kemudian dia pelan pelan menuju kamar, dan alangkah terkejutnya, ketika melihat istrinya lagi tidur dengan orang lain dalam satu selimut. Vick Tior marah sekali, mukanya merah, matanya merah, pikiranya kacau dan tanpa pikir panjang dia mengambil golok babi dari dapur, lalu menuju kamar.

Dalam perjalanan ke kamar, dia ingat kata kata gurunya, wah ini praktek atau teori ya. Coba saya praktek langsung. Dengan menahan segala kemarahannya, Vick Tior memilih cara praktek yang diberikan guru spiritualnya tadi siang. Maju 7 langkah dengan mengucapkan "sabar" disetiap langkahnya, kemudian mundur 7 langkah dengan mengucapkan "sabar" disetiap langkahnya. kira kira baru berjalan setengah dari ritualnya itu, istrinya terbangun karena mendengar suara kaki maju mundur. Lalu mencari asal suara, dan bengong karena tidak tau apa yang dilakukan suaminya. Lalu istrinya bertanya" Eh Papa uda pulang? udah lama pa? Lho itu lagi ngapain? lalu suaminya menjawab dengan geram: "Saya ini lagi melatih kesabaran" Eeeehhhmmmmm!! Kamu tidur ama siapa? Haaa? " istrinya menjawab: 'Oooooooh, itu khan mama kamu baru datang dari kampung? Vicktor:" Ha? mama?, hampir aja saya membuat kesalahan fatal jika saya tidak ingat kata guru saya.

Itulah gunanya kesabaran, kita bisa terhindar dari kefatalan dan penyesalan, bahkan bisa menyelamatkan banyak jiwa.



Read More …


"Janganlah selalu menyelesaikan masalah dengan kekuatan dan kekerasan, akan lebih baik dan damai menyelesaiakannya dengan kelembutan...ini akan lebih indah dan mencapai tujuan kita"Untuk memahami hal ini ada sebuah cerita yang luar biasa nih.Begini nih ceritanya..

Ada dua benda yang bersahabat karib yaitu BESI dan AIR.Besi seringkali berbangga akan dirinya sendiri.Ia sering menyombong kepada sahabatnya :"Lihat ini aku, kuat dan keras. Aku tidak seperti kamu yang lemah dan lunak".Air hanya diam saja mendengar tingkah sahabatnya.

Suatu hari Besi menantang Air berlomba untuk menembus suatu gua dan mengatasi segala rintangan yang ada di sana.Aturannya :"Barang siapa dapat melewati gua itu dengan selamat tanpa terluka
maka ia dinyatakan menang."

Besi dan Air pun mulai berlomba .Rintangan pertama mereka ialah mereka harus melalui penjaga gua itu yaitu batu-batu yang keras dan tajam.Besi mulai menunjukkan kekuatannya,Ia menabrakkan dirinya ke batu-batuan itu.Tetapi karena kerasnya batu-batuan itu mulai runtuh menyerangnya dan Besi pun banyak terluka di sana - sini karena melawan batu-batuan itu.

Air melakukan tugasnya ia menetes sedikit demi sedikit untuk melawan bebatuan itu,ia lembut mengikis bebatuan itu sehingga bebatuan lainnya tidak terganggu dan tidak menyadarinya,ia hanya melubangi seperlunya saja untuk lwat tetapi tidak merusak lainnya.Score Air dan Besi 1 : 0 untuk rintangan ini.

Rintangan kedua mereka ialah mereka harus melalui berbagai celah sempit untuk tiba di dasar gua.Besi merasakan kekuatannya,ia mengubah dirinya menjadi mata bor yang kuat dan ia mulai berputar untuk menembus celah-celah itu.Tetapi celah-celah itu ternyata cukup sulit untuk ditembus,semakin keras ia berputar memang celah itu semakin hancur tetapi ia pun juga semakin terluka.

Air dengan santainya merubah dirinya mengikuti bentuk celah-celah itu.Ia mengalir santai dan karena bentuknya yang bisa berubah ia bisa dengan leluasa tanpa terluka mengalir melalui celah-celah itu dan
tiba dengan cepat didasar gua.Score air dan besi 2 : 0

Rintangan ketiga ialah mereka harus dapat melewati suatu Lembah dan tiba di luar gua besi kesulitan mengatasi rintangan ini,ia tidak tahu harus berbuat apa,akhirnya ia berkata kepada air :"Score kita 2 : 0,aku akan mengakui kehebatanmu jika engkau dapat melalui rintangan terakhir ini !"

Air pun segera menggenang sebenarnya ia pun kesulitan mengatasi rintangan ini,tetapi kemudian ia membiarkan Sang MATAHARI membantunya untuk menguap.Ia terbang dengan ringan menjadi awan, kemudian ia meminta bantuan ANGIN untuk meniupnya ke seberang dan mengembunkannya.Maka Air turun sebagai HUJAN.Air menang telak atas Besi dengan score 3 : 0.

Jadikanlah hidupmu seperti AIR.Ia dapat memperoleh sesuatu dengan kelembutannya tanpa merusak dan mengacaukan karena dengan sedikit demi sedikit ia bergerak tetapi ia dapat menembus bebatuan yang keras.

Ingat hati seseorang hanya dapat dibuka dengan kelembutan dan kasih bukan dengan paksaan dan kekerasan.Kekerasan hanya menimbulkan dendam dan paksaan hanya menimbulkan keinginan untuk membela diri.

Air selalu merubah bentuknya sesuai dengan lingkungannya,ia flexibel dan tidak kaku karena itu ia dapat diterima oleh lingkungannya dan tidak ada yang bertentangan dengan dia.

Air tidak putus asa,Ia tetap mengalir meskipun melalui celah terkecil sekalipun.Ia tidak putus asa.

Dan Sekalipun Air mengalami suatu kemustahilan untuk mengatasi masalahnya,padanya masih dikaruniakan kemampuan untuk merubah diri menjadi uap.



Read More …


Kadang kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Tuhan. Jarang sekali kalau kita dapat rahmat melimpah dan kebahagiaan kita teringat bahwa itu pun merupakan ujian dan cobaan dari Tuhan. Ada di antara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula di antara kita yang tegar menghadapinya.

Bukankah Tuhan tidak pernah memberikan beban yang melampui kemampuan manusia? Jadi jika kita menghadapi suatu masalah hadapilah masalah tersebut dengan penuh kepasrahan kepada-NYA. Hanya karena Dia-lah segala sesuatu ada dan tidak ada.

Setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Tuhan. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup
kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta dan lainnya.

Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah?

Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke “orang pintar” agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke “kursi” yang lebih empuk?

Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan berbagi rejeki kepada sesama?

Bersabarlah. Karena orang sabar akan selalu mendapat rahmat dan karunia Tuhan.

Memang tidak mudah menjadi orang sabar, biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, “Yah.. Sabar kan ada batasnya.” Atau lidah kita berseru, “Sabar sih sabar.. Saya sih kuat tidak makan enak, tapi anak dan isteri saya?” Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri.

Karena kita semua adalah adalah milik Tuhan dan kepadaNya-lah kita akan kembali.

Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa, kita berasal dari-Nya, dan baik suka maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Tuhan, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Tuhan.

Apakah kita rela bila mobil yang kita beli dengan susah payah hasil keringat sendiri tiba-tiba hilang?

Apakah kita rela bila proyek yang sudah di depan mata, tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dan diberikan kepada saingan kita?

Apakah kita menjadi iri dan dengki kita bila melihat tetangga kita sudah membeli TV baru, mobil baru atau malah rumah baru?

Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan?

Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Bila kita mampu mengingat dan mengerti arti kalimat tersebut, di tengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Tuhan akan memberikan “hadiah” yang setimpal di hari penghakiman nanti.

Sudah siapkah kita menerima “hadiah” yang akan di berikan oleh Tuhan di hari penghakiman nanti?


Read More …


Dalam kehidupan masyarakat, khususnya kehidupan umat Islam, da'wah memiliki kedudukan yang sangat penting. Dengan da'wah, bisa disampaikan dan dijelaskan ajaran Islam kepada masyarakat sehingga mereka menjadi tahu mana yang haq dan mana yang bathil, bahkan da'wah yang baik bukan hanya membuat masyarakat memahami yang haq dan bathil itu, tapi juga memiliki keberpihakan kepada segala bentuk yang haq dengan segala konsekuensinya dan membenci yang bathil sehingga selalu berusaha menghancurkan kebathilan. Manakala hal ini sudah terwujud, maka kehidupan yang hasanah (baik) di dunia dan akhirat akan dapat dicapai.

Karena da'wah memiliki kedudukan yang sangat penting, maka secara hukum da'wah menjadi kewajiban yang harus diemban oleh setiap muslim. Karena itu bila antum tanyakan apa kelebihan mereka yang berda'wah dari masjid ke masjid mungkin bukan karena ilmu yang mereka miliki sudah begitu banyak, juga belum tentu karena kepandaian mereka yang baik dalam menyampaikan ceramah, tapi lebih karena rasa tanggungjawab da'wah yang besar. Merasa memiliki tanggungjawab itulah yang membuat seseorang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Adapun kelemahan dari sisi ilmu, kemampuan menyampaikan pesan da'wah bahkan kepribadian yang belum sempurna akan diusahakan dalam perkembangan selanjutnya, orang bilang akan ditambah sambil jalan. Oleh karena itu, wajibnya berda'wah sudah kita pahami, apalagi ia menjadi sesuatu yang amat dinanti oleh masyarakat. Tinggal persoalannya maukah kita melaksanakan tugas da'wah. Bila mau, potensi diri yang sudah ada pada setiap kita akan kita kembangkan dengan sebaik-baiknya.

Mereka yang telah dan terus berda'wah dari masjid ke masjid bukanlah tanpa kekurangan, ada orang yang yang bersimpati seperti antum namun ada juga yang antipati dan merekapun terusir dari suatu masjid, namun karena merasa bertanggungjawab terhadap da'wah, “lahan da'wah” yang lain masih banyak yang harus digarap. Bagi kita, banyak sekali orang yang harus dibina, namun terus terang kita masih kekurangan pembina, apalagi pembina yang berkualitas bagi dari aspek kepribadian, wawasan maupun kemampuan da'wah.

Hal-hal yang harus kita tiru dari mereka dan ini mereka ada dalam rumusan da'wah yang kita pahami antara lain: Pertama, niat yang ikhlas karena Allah swt, sehingga meskipun da'wah yang harus dilaksanakan itu berat karena beberapa hari harus meninggalkan anak dan isteri serta kesibukan mencari nafkah, tugas da'wah tetap akan dirasakan sebagai sesuatu yang ringan dan menyenangkan. Ada honor atau tidak ada honor da'wah jalan terus, karenanya sesuatu yang naif bila dalam da'wah ada da’i-da’i yang pasang tarif bahkan tarif tinggi serta pasilitas penginapan yang standar bila berada di suatu daerah. Keikhlasan seperti inilah yang membuat da'wah cepat tersebar luas ke berbagai wilayah di dunia, begitulah yang dicontohkan oleh sahabat Muadz bin Jabal yang berda'wah ke Yaman, sahabat Mush’ab bin Umair yang berda'wah ke Yatsrib yang kemudian menjadi Madinah, sahabat Ja’far bin Abi Thalib yang berda'wah ke Habasyah di Afrika dan sebagainya.

Kedua, amal jama’i atau kerjasama sehingga tugas da'wah yang berat itu bisa dipikul bersama sehingga bisa saling meringankan, bukan malah saling memberatkan. Ini pula yang membuat da'wah itu tidak tergantung orang lain, tapi ditanggulangi bersama. Dalam amal jama’I diperlukan dua unsur utama, yaitu qiyadah atau pemimpin yang ikhlas sehingga ia akan selalu mengarahkan perjalanan jamaah kepada jalan da'wah yang benar dan ia tidak akan menyelewengkan jamaah untuk tujuan yang justeru bertentangan dengan da'wah. Disamping itu unsur lainnya adalah jundiyah, pasukan, prajurit atau anggota yang taat, mereka mau taat kepada pemimpin ketika pemimpinnya ikhlas. Karenanya bila ada jundiyah yang tidak taat, salah satu yang harus dikoreksi oleh seorang pemimpin adalah apakah ia masih ikhlas atau sudah ternodai keikhlasannya itu.

Manakala da'wah bisa kita tunaikan dengan sebaik-baiknya, diantara keutamaan yang akan kita peroleh adalah pahala yang amat besar sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw: Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tirmudzi).


Read More …


Subhanallah.. hanya kalimat inilah yang menurut saya paling pantas untuk menggambarkan betapa dahsyatnya kehidupan yang saya jalani pada bulan Maret 2009.Pada itu banyak sekali kejadian luar biasa yang bisa menyadarkan kelalaian.Dan tidak luput juga kejadian yang begitu dahsyat yang bisa membangkitkan semangat untuk terus berjuang dalam barisan da'wah ini.

Awalnya pada tgl 9 Maret 2009.Ini adalah hari yang sangat menyenangkan karena merupakan hari pertama masuk kuliah lagi setelah liburan panjang.Seperti biasanya kegiatan belajarpun belum dimulai.Acara pada hari itu adalah “Dauroh Ta’rifiyyah” untuk mahasiswa baru.Saya dan sahabat di BEM lainnya menjadi panitia untuk kegiatan itu.Dalam acara tersebut ada yang sangat special karena ada kunjungan alumni lulusan Al-Azhar Mesir yang dulunya merupakan mahasiswa di kampus saya tercinta (Ma’had Al-Imarat).Beliaupun berbagi tentang perjuangan Yahya Al Andalusi dalam menuntu ilmu.Cerita yang sangat luar bisa,yang dapat memotivasi diri dalam menuntut ilmu.

Beberapa hari kemudian tepatnya pada tgl 12Maret 2 009.Haha….Ini hari yang paling seru sekaligus menegangkan,hehe..pada hari ini rasanya sangat malas sekali untuk berangkat kuliah.Tapi saya teringat dengan cerita perjuangan Yahya dalam menuntut ilmu.Karena didorong motivas i tu akhirnya saya berangkat kuliah.Ketika ditengah jalan ada teman yg ngesms mengajak ngenet,tapi saya menolaknya.Singkat ceritanya.. ketika baru saja turun dari angkot tepatnya di samping lap.Tegalega,ada seseorang yang menyapa dan mengajak untuk berbincang2.Lama kelamaan dia akhirnya menodongkan sebuah pisau belati keperut saya dan meminta uang.Dengan refleks,saya menangkisnya.Ketika saya mau balik memukulnya..ternyata tangan saya sudah dipegang dari belakang.Ternyata yang memegang tangan saya itu adalah temen2 nya.Akhirnya oleh ke6 orang itu saya dibawa ke dalam lap.Tegalega.Disana semua barang milik saya digeledah dan mereka mengambilnya dengan paksa.Yang mereka ambil itu awalnya HP n dompet saya.Semua uang yang ada dalam dompet saya itu ada Rp400.000 (awalnya buat beli buku pelajaran).

Sekitar 30 menit saya di “tahan” oleh mereka,selama itu pula mereka curhat mengenai kejahan mereka pada hari itu.Di saat itu hanya doa lah yang bisa saya panjatkan.Akhirnya… Allah mendengar doa saya.Tiba-tiba ada sebuah sms yang masuk ke HP saya.Akhirnya salah seorang dari mereka membaca SMS itu.Akhirnya dia membacakan SMS itu. “Aslm,ustadz ntr sore bisa ngisi materi ga?” itulah isi dari SMS itu.Dari situlah Allah menunjukan kekuasaannya. Setelah membaca SMS itu ada kejadian yang sulit untuk dipercaya,orang yang memegang HP saya itu langsung memberikan kembali HP yang sempat mereka ambil.Lalu ada yang menanyakan kenapa dia memberikan kembali HP tersebut.Dengan muka aneh dia bilang “takut kualat”.Dan ternyata orang itu adalah ketua kelompok mereka.Akhirnya mereka pun hanya mengambil uang saya saja dan menyisakan uang dalam dompet Rp 200.000.Setelah itu mereka membolehkan saya untuk pergi.
Subhanallah ternyata Allah emang Maha Penolong,selama jalan menuju kampus saya pun tidak merasa telah terjadi sesuatu.

Hingga akhirnya teman menanyakan kenapa saya datang telat ke kampus.Akhirnya saya pun menceritakan kejadian pagi itu.dan tanpa sepengetahuan saya dia langsung melaporkan kejadian itu pada Mudir (klo di kampus lain mah Rektor).lalu saya pun di panggil menghadap Mudir dan disuruh menjelaskan kejadian itu(harus pake b.Arab).Setelah mendengar kejadian itu beliau pun langsung menyuruh saya untuk menyuruh datang ke Muhasib (Bendahara) dan memberikan memo yang telah dibuat oleh beliau.ketika saya memo tersebut,Subhanallah ternyata untuk buku pada semester ini GRATIS…!!! Subahanallah itulah kejadian yang sangat luar biasa.Yang tak mungkin bisa dilupakan.Karena pada hari itu begitu banyak hikmah yang bisa diambil.Semoga dengan kejadian itu saya bisa lebih dekat lagi dengan Allah.Amiin



Read More …


Marah dapat menyebabkan kanker,serangan jantung,dan penyakit hati lainnya,hehe…(ini mah asli bos,hehe).Kemarahan dapat terwujud dalam beberapa bentuk, mulai dari kesal, benci sampai memberontak. Semua itu adalah bentuk ekspresi dari kemarahan.Mereka yang sedang dilanda amarah, bisa jadi akan terus berperilaku buruk atau sebaliknya kembali normal jika mereka berniat ingin menghilangkan akar kemarahan yang ada dalam dirinya.

Kemarahan adalah emosi yang menakutkan. Ekspresi negatif dari amarah bisa berupa kekerasan secara verbal maupun fisik, prasangka buruk, bersikap anti sosial, kasar, merasa terasing, depresi dan penyakit kejiwaan.

Hal-hal tersebut dapat mengganggu kehidupan seseorang karena dapat merusak hubungan antar individu, menyakiti sesama, mengacaukan pekerjaan, menggelapkan akal sehat, memengaruhi kesehatan dan yang pasti membuyarkan masa depan.

Tapi sisi positifnya juga ada. Kemarahan dapat memperingatkan kita bahwa suatu masalah sedang terjadi. Kita jadi termotivasi untuk menghadapi dan memecahkan masalah yang ada sehingga kemarahan tidak berlanjut kepada depresi, kecemasan, penggunaan alkohol dan trauma.

Kemarahan pada remaja dapat menular pada orangtua. Remaja sering menghadapi banyak masalah emosi pada masa perkembangannya. Mereka umumnya berjuang dengan krisis identitas, pemisahan diri, hubungan dengan teman dan juga tujuan hidup. Hubungan mereka dengan orangtua juga ikut berubah seiring makin independennya diri mereka.

Hal-hal tersebut di atas dapat memicu perasaan frustrasi dan kebingungan yang berujung timbulnya kemarahan, baik pada orangtua maupun remaja. Kita dapat membantu remaja menghilangkan perilaku buruk selama kita juga bersedia berperilaku baik. Sikap yang dibutuhkan adalah merespons ketimbang saling bereaksi. Kuncinya adalah dengan mengontrol emosi dan mengekspresikannya secara proaktif, bukan menolak kemarahan itu sendiri.

Langkah pertama dalam mengenali dan mengatur kemarahan adalah dengan melihat ke dalam diri sendiri.

Tanyakan pada diri kita sendiri dan juga anak remaja beberapa pertanyaan berikut yang dapat membantu pengenalan pada diri sendiri :

* Darimana datangnya rasa marah?
* Situasi apa yang menyebabkan kemarahan muncul?
* Apakah harapan saya terlalu berlebihan?
* Konflik apa sebenarnya yang sedang saya hadapi sekarang?
* Apakah saya bereaksi untuk menyakiti, mengancam atau menakuti?
* Apakah saya sadar akan tanda-tanda kemarahan (bernapas pendek dan kencang, keringat berlebih) ?
* Bagaimana sikap saya dalam mengekspresikan kemarahan?
* Kepada siapa amarah saya ditujukan?
* Apakah saya menggunakan kemarahan untuk mengisolasi diri, atau menyakiti orang lain?
* Apakah saya selama ini berkomunikasi dengan baik?
* Apakah saya terlalu berfokus pada apa yang terjadi pada diri saya ketimbang apa yang bisa saya kerjakan?
* Apakah emosi yang mengontrol diri saya, atau saya yang mengontrol emosi?



Jika terdapat masalah pada remaj, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah dengan mendengarkan keluhan dan perasaan mereka. Usahakan untuk memandang persoalan mereka dari sudut pandang kita ketika masih remaja dulu. Menyalahkan dan mendakwa hanya akan membuat tembok tebal yang akan mengakhiri segala komunikasi.

Katakan perasaan kita,tunjukkan kepada mereka kalau kita begitu memperhatikan dan menyayangi mereka. Penyelesaian yang baik adalah yang dapat memenangkan kedua belah pihak. Relaksasi atau meditasi sangat ampuh untuk melatih kemampuan mengatur emosi. Amarah hanyalah suatu perasaan, sedang bagaimana mengekspresikannya tergantung dari pilihan kita sendiri.



Read More …


Siapa yang tak kenal dengan tokoh da'wah yang satu ini.Bahkan demi mengenangnya sampai-sampai kisah hidup beliau dijadikan sebuah film berjudul "Sang Murobbi".Ia dialah KH>Rahmas Abdullah sang Syaikhut Tarbiyah.KH Rahmat Abdullah dilahirkan di kota Jakarta pada tanggal 3 Juli 1953. Putra kedua dari 4 (empat) bersaudara ini hidup dari keluarga asal Betawi yang sederhana dan taat beragama. Pada usia 11 tahun ia harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, saat itu ia mulai berstatus sebagai seorang anak yatim.

Awal pendidikan resminya, disamping dididik oleh kedua orangtuanya, ia memasuki sebuah perguruan Islam yang terkenal di Jakarta, Perguruan Asy-Syafi'iyah bimbingan KH Abdullah Syafi'i (tokoh Islam yang berwibawa di kota ini) hingga menamatkan sekolah tingkat Aliyah (tingkat menengah) dengan prestasi yang gemilang.

Rahmat Abdullah muda sangat berbeda dengan kaum remaja seusianya pada saat itu. Ia taat beribadah, disamping mempunyai karakter dan akhlaq yang mulia. Hari-harinya dihabiskan untuk belajar, membaca dan membaca. Bahkan di usianya yang sangat muda, ia telah memposisikan dirinya sebagai guru ditempat ia menuntut ilmu.

Dunia ilmu adalah dunia yang sangat melekat dalam dirinya. Kegemarannya membaca al Qur'an dan aneka buku membuat ia jauh lebih cepat matang dibandingkan dengan remaja-remaja lain pada umumnya.Di saat inilah ia banyak membaca pikiran-pikiran para tokoh perjuangan, seperti HOS Cokro Aminoto, Moh. Natsir, Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, Maududi dan tokoh-tokoh lainnya.Di samping ia tetap menekuni kitab-kitab klasik (kitab kuning) sebagai warisan sejarah.

Kebersihan jiwanya telah mengantarkan Rahmat Abdullah menjadi pemuda pembelajar cepat yang sangat cemerlang seperti sebuah lautan ilmu tanpa menyandang gelar. Ia perpaduan antara khazanah ilmu-ilmu keislaman klasik dan pandangan Islam modern yang tidak dimiliki oleh banyak orang yang berlabel sang ustadz.

Dunia seni dan sastra sebagai media komunikasi budaya juga merupakan bagian bagi dirinya yang tak pernah lepas. Antara bakat dan semangat yang telah melekat. Ia gemar dzikir dan fikir, membaca fenomena alam yang kemudian diekspresikan dalam bentuk produk seni, seperti puisi, esai, butir-butir nasyid dan naskah drama. Oleh karena itulah banyak orang cenderung menjulukinya sebagai seorang “budayawan”.

Sebagai da’i sejati, ia habiskan waktu, tenaga serta pikirannya untuk kegiatan da’wah. Siang dan malam dilaluinya pengajian demi pengajian tanpa mengenal lelah dan keluh kesah. Ia menjadi tempat anak-anak muda berkonsultasi, berbagi rasa, curahan hati tanpa ada batas waktu “pelayanan ummat”. Itulah peran yang ia mainkan hingga kini.

Sebagai seorang Muballigh, ia dikenal memiliki karakter yang khas. Kemampuan retorika tinggi yang dihiasi oleh sentuhan sastra yang unik, acap kali membuat para pendengar menangis sebagaimana kemampuan ia membangkitkan semangat yang menggelora ketika ia mengangkat isu tentang jihad.

Beliau juga aktif mengisi ceramah di radio dan televisi. Beliau adalah pengisi rutin rubrik “Titik Pandang Rahmat Abdullah” di Radio Dakta Bekasi setiap Sabtu jam 06.30 WIB. Di radio ini pula beliau menggagas rubrik SAMARA yang disiarkan setiap malam Rabu.

Sebagai seorang penulis, beliau aktif menulis buku dan mengisi rubrik di beberapa majalah Islam, seperti majalah Sabili, Islah, Saksi, Ummi, dan Tarbawi. Di majalah yang disebutkan terakhir inilah, beliau secara rutin mengisi rubrik Asasiyat yang kemudian oleh Pustaka Dakwatuana diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul “Untukmu Kader Dakwah” pada tahun 2005.

Awal tahun 80-an, ia memasuki dunia harokah Islamiyah yang pada saat itu mulai tumbuh di Indonesia hingga menghantarkan beliau sebagai pakar dalam bidang Tarbiyah, majalah Sabili pernah memberinya gelar “Syaikh at Tarbiyah” pada tahun 2001. Dengan bermodalkan sepeda motor tua ia masuk kampung keluar kampung, masuk kampus keluar kampus menabur fikrah Islamiyah yang shahih dan syamil. Fikrah Ikhwanul Muslimin yang didistribusikan ternyata mendapat sambutan yang hangat dari berbagai kalangan yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya PKS.

Awal tahun 90 beliau memasuki pengembangan dunia pendidikan dan sosial secara formal, sebagai wujud dari kepeduliannya terhadap lingkungan. Ia mendirikan ISLAMIC CENTER IQRO’ yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan da’wah di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Di sinilah ia menetap dan disinilah ia berekspresi mengembangkan cita-citanya melalui kajian kitab-kitab klasik setiap Ahad pagi.

Proses perjalanan da’wah yang panjang akhirnya telah menggiringnya pada keterlibatan dalam dunia politik yang kini ia geluti. Partai Keadilan yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), adalah bagian dari dirinya. Ia salah satu pendiri dari partai yang berbasis islam intelektual itu.

Posisi tertinggi dalam partai, yang pada saat ini diperhitungkan itu, telah dicapainya. Sebagai bentuk kepercayaan penduukung terhadapnya. Disamping ia menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) dan Majelis Syuro, iapun menjabat sebagai anggota DPR-RI (parlemen).

Hari-harinya diwarnai oleh kesibukan yang luar biasa. Mengajar, ceramah di berbagai stasiun radio dan televisi, mengisi seminar-seminar keislaman di berbagai daerah dan luar negeri, menulis artikel di sejumlah media cetak, disamping melakukan tugas lobby politik dengan berbagai kalangan.

Di akhir hayatnya, beliau masih sempat mengikuti rapat Lembaga Tinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Selasa (14 Juni 2005) di Gedung Kindo Duren Tiga Jakarta Selatan yang dimulai ba’da Ashar sekitar jam 16.30 WIB. tak ada tanda-tanda kalau beliau sedang sakit. Wajahnya cerah seperti biasa. Namun, ketika beliau wudhu untuk menunaikan shalat Maghrib, beliau merasakan sakit di sekitar kepalanya. Beliau sempat diperikas dr. Agus Kushartoro, Direktur Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Ia dinyatakan terkena stroke. Sempat dibawa ke rumah sakit Triadipa Pancoran, akan tetapi karena peralatannya kurang memadai, beliau lalu dibawa ke rumah sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta. Namun di tengah perjalanan, beliau dipanggil Allah Swt. Beliau wafat dalam usia 52 tahun, meninggalkan satu istri dan tujuh orang anak.

SELAMAT JALAN MUJAHID DAKWAH. MURIDMU, KADER-KADERMU AKAN MENERUSKAN CITA-CITA DAN PERJUANGANMU.


Read More …


Semua insan tentunya memiliki sebuah impian. Bahkan bagi sebagian orang impian itu hadir begitu nyata dimata mereka dan menjadi penunjuk arah untuk mewujudkannya. Sejarahpun telah mencatat bahwa sebagian besar orang-orang yang sukses dalam hidupnya adalah orang-orang yang memiliki impian, ya impian besar tentunya...dan terkadang tak jarang impian mereka di luar logika manusia biasa. Namun jangan samakan logika kebanyakan mereka dengan logika pemimpinya. Seorang pemimpi, ia yakin apa yang ia impikan benar-benar akan terwujud suatu saat nanti, walaupun mereka sadar untuk merealisasikannya tidak mudah. Tapi ia yakin bahwa dengan kesungguhan tekat, kedisiplinan amal, kejelian siasat dan satu lagi dia tidak mengenal istilah putus asa. Karena putus asa tidak ada dalam kamus orang-orang yang berjaya.

Sebagian besar orang memandang bahwa biarkanlah roda kehidupan ini berputar seperti adanya, biarkanlah aku mengikuti arusnya. Tanpa adanya usaha untuk membendung arus dan memutar arahnya padahal mereka tahu arus yang akan mereka lalui tak jarang membawa mereka ke komunitas orang-orang yang gagal dalam hidup, hidup hampa tanpa arah dan tujuan. Mereka hidup hanya untuk menghabiskan sisa waktu hingga waktupun enggan menyapanya. Maka mereka termasuk orang-orang yang gagal.

Merumuskan impian dan melukiskannya dan kemudian mencari arah untuk membidiknya adalah fase perjalanan orang-orang yang berjaya. Impian itulah yang menjadi pondasi arah geraknya dalam mengarungi bahtera kehidupan yang begitu rumit ini. Kapan saatnya ia diam, kapan saatnya ia bicara, kapan saatnya ia maju, kapan saatnya ia mundur, dan kapan saatnya ia bergerak semua telah terumuskan. Tinggal kesungguhan ikhtiar untuk merealisasikannya dan kesabaranlah yang akan menjadi penentunya. Man jadda wajadda...insyaAllah.

Selain kesempurnaan ikhtiar tentunya kesempurnaan tawakal juga menjadi tuntutan yang berkeinginan menjadi orang-orang berjaya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Rabb adalah inti dari ikhtiarnya. Terkadang manusia lupa untuk menghadirkan 4JJI dalam setiap napas perjalanan impiannya lalu akibatnya muncul komunitas-komunitas yang sombong terhadap apa telah mereka raih...sehingga mereka berpendapat bahwa semua hasil yang ia dapat sekarang adalah murni dari jerih payah usaha mereka sendiri tanpa campur tangan yang kuasa...Bukankah perjalanan Sya'labah, Qorun, Fir'aun bisa menjadi pelajaran berharga bahwa kesombongan menghantarkan dan menyeret mereka ke lembah kegagalan total. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua.Selain kesempurnaan ikhtiar tentunya kesempurnaan tawakal juga menjadi tuntutan yang berkeinginan menjadi orang-orang berjaya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Rabb adalah inti dari ikhtiarnya. Terkadang manusia lupa untuk menghadirkan Allah dalam setiap napas perjalanan impiannya lalu akibatnya muncul komunitas-komunitas yang sombong terhadap apa telah mereka raih...sehingga mereka berpendapat bahwa semua hasil yang ia dapat sekarang adalah murni dari jerih payah usaha mereka sendiri tanpa campur tangan yang kuasa...Bukankah perjalanan Sya'labah, Qorun, Fir'aun bisa menjadi pelajaran berharga bahwa kesombongan menghantarkan dan menyeret mereka ke lembah kegagalan total. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua.

Teruslah bermimpi karena mimpi adalah salah satu pembeda atara orang sukses dan orang gagal.Dan yakinlah bahwa kita mampu mewujudkan segala mimpi kita.Sebagian besar orang memandang bahwa biarkanlah roda kehidupan ini berputar seperti adanya, biarkanlah aku mengikuti arusnya. Tanpa adanya usaha untuk membendung arus dan memutar arahnya padahal mereka tahu arus yang akan mereka lalui tak jarang membawa mereka ke komunitas orang-orang yang gagal dalam hidup, hidup hampa tanpa arah dan tujuan. Mereka hidup hanya untuk menghabiskan sisa waktu hingga waktupun enggan menyapanya. Maka mereka termasuk orang-orang yang gagal.

Merumuskan impian dan melukiskannya dan kemudian mencari arah untuk membidiknya adalah fase perjalanan orang-orang yang berjaya. Impian itulah yang menjadi pondasi arah geraknya dalam mengarungi bahtera kehidupan yang begitu rumit ini. Kapan saatnya ia diam, kapan saatnya ia bicara, kapan saatnya ia maju, kapan saatnya ia mundur, dan kapan saatnya ia bergerak semua telah terumuskan. Tinggal kesungguhan ikhtiar untuk merealisasikannya dan kesabaranlah yang akan menjadi penentunya. Man jadda wajadda...insyaAllah.

Selain kesempurnaan ikhtiar tentunya kesempurnaan tawakal juga menjadi tuntutan yang berkeinginan menjadi orang-orang berjaya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Rabb adalah inti dari ikhtiarnya. Terkadang manusia lupa untuk menghadirkan 4JJI dalam setiap napas perjalanan impiannya lalu akibatnya muncul komunitas-komunitas yang sombong terhadap apa telah mereka raih...sehingga mereka berpendapat bahwa semua hasil yang ia dapat sekarang adalah murni dari jerih payah usaha mereka sendiri tanpa campur tangan yang kuasa...Bukankah perjalanan Sya'labah, Qorun, Fir'aun bisa menjadi pelajaran berharga bahwa kesombongan menghantarkan dan menyeret mereka ke lembah kegagalan total. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua.Selain kesempurnaan ikhtiar tentunya kesempurnaan tawakal juga menjadi tuntutan yang berkeinginan menjadi orang-orang berjaya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Rabb adalah inti dari ikhtiarnya. Terkadang manusia lupa untuk menghadirkan Allah dalam setiap napas perjalanan impiannya lalu akibatnya muncul komunitas-komunitas yang sombong terhadap apa telah mereka raih...sehingga mereka berpendapat bahwa semua hasil yang ia dapat sekarang adalah murni dari jerih payah usaha mereka sendiri tanpa campur tangan yang kuasa...Bukankah perjalanan Sya'labah, Qorun, Fir'aun bisa menjadi pelajaran berharga bahwa kesombongan menghantarkan dan menyeret mereka ke lembah kegagalan total. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua.

Teruslah bermimpi karena mimpi adalah salah satu pembeda atara orang sukses dan orang gagal.Dan yakinlah bahwa kita mampu mewujudkan segala mimpi kita.


Read More …


Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak-gerak secepat mungkin.

Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat.

Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat aku akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."

Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat.

Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, aku takkan pernah mau kembali ke sini lagi."

Semua wajah yang ada di dunia ini adalah cermin wajah kita sendiri. Wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang kita jumpai?


Read More …


Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki : selamanya memberi yang bisa kita berikan,selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. -M. Anis Matta-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..


Read More …

Malam itu kembali terbayang,Sesosok wajah yang penuh pesona.Wajah yang tak mungkin mudah untuk dilupakan, karena begitu banyak kenangan bersamanya,mungkin karena melihat kepribadiannya lah aku bisa lebih mengenal tentang indahnya Islam.

Senang,khawatir,cemas,ragu,semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu di dalam hati ini.Bisa dibilang ini perasaan lama yang sempat ingin tuk dilupakan.Namun beberapa hari ini bangkit kembali.

Tapi ada sebuah pertanyaan besar yang hinggap dalam hatiku.Apakah ini yang namanya cinta atau hanya sebatas nafsu semata.Yaa Allah hanya kepadaMu lah hambaMu ini memohon perlindingan.Jagalah cinta ini agar tetap hanya karenaMu,bukan karena nafsu sesaat.

Yaa Allah periharalah cinta ini hingga suatu saat nanti kami bisa berjuang bersama,Amiin


Read More …


Kepada siapakah hamba mengadu, jika para pembawa panji cinta mengibarkan bendera permusuhan, menabuh genderang nafsu angkara. Masih pantaskah hamba menerima cintamu, menyebarkan rahmat seru sekalian alam, tetapi nyatanya kami terpuruk dibalik jubah kesombongan, membusungkan dada saling menebar caci maki dan kebencian.Dengan dalih demokrasi kami menjarah dan mencabik siapa saja, memercikkan nyala api, menggelar fasad. Padahal dilubuk hati hamba pesan suci para ustadz masih terngiang dan mengetuk qalbu " Wahai hamba nan disayang, ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh tidak mencintai orang-orang yang membuat kerusakkan ".

Tuhanku, tangan apa yang harus kami pergunakan untuk menutupi malu dan luka hati yang sembilu. Kebanggaan apalagi yang masih tersisa untuk menampakkan sosok wajah orang beriman. Bahasa apakah yang paling pantas kami ucap, untuk melukiskan akhlak bangsa yang ramah tamah, lemah lembut dan sopan santun, Tetapi tepat dihadapan hamba beberapa pelajar dan mahasiswa bunga-bunga bangsa, telah berubah menjadi duri yang menyakitkan. Tanpa merasa malu mereka mengacungkan tinju dengan beringas, saling mencengkram dalam tawuran yang rusuh, mengaum dan tak segan-segan membunuh.

Tuhanku, fikiran dan otak seperti apa yang harus kami pakai untuk memahami perilaku manusia yang mengaku menyembah-MU dengan penuh cinta, tetapi hatinya compang-camping menjadi budak sahaya kedzoliman dan berpaling dari cinta-MU untuk menyembah nafsu amarah yang sarat dengan rasa curiga yang terus memburu.

Tuhanku, kami menapaki kehidupan dengan gelisah dan rasa was-was. Koran-koran yang kami baca berwarna hitam, menyajikan berita-berita kriminalitas, krisis identitas dan mabuk miras, generasi triping yang asyik menenggak ekstasi, pemerkosaan pembantu di depan televisi dan garasi, serial pembunuhan sopir taksi, berita korupsi dan kolusi, dan saat ini orang sibuk dan limbung mengadu siasat berebut kursi dan suksesi.

Tuhanku, kepada siapa kami harus bertegur sapa, sedangkan persaudaraan dan kerukunan ternyata hanya fatamorgana, pemanis retorika semata.

Tuhanku, jadikanlah negeri kami Taman Firdaus, bangsa yang merekah senyum, menebar semerbak bunga cinta, ataukah hanya duka, luka, derita dan air mata yang kami terima karena Engkau telah memalingkan muka dan bosan dengan kata-kata.

Tuhanku, maafkanlah hamba, manusia dunia yang sering lupa, betapa disetiap pori-pori hamba adalah keringat penuh dosa yang sering berkata atas nama surga, padahal betapa Engkau Maha Tahu, hamba adalah debu-debu yang menderu diburu nafsu, akar yang tercerabut dari batangnya, diamuk oleh badai kebodohan dan kesombongan.

Tuhanku, cintailah kami, wahai segala wahai, Sang Pengasih dari Segala Terkasih karena hamba tahu, hamba tidak akan pernah menjadi golongan-golongan orang beriman, apabila hamba tidak mencintai sesama sebagaimana hamba mencintai diri hamba sendiri.

Tuhanku, jadikanlah negeri kami, dimana amarah dan angkara tak pernah menyala, dimana senjata tiada guna, pagar dan pintu-pintu rumah terbuka, penghuninya mendendangkan tembang cinta, tegur sapa, senyum dan tawa adalah surga. Amiin


Read More …


Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah mengungakapkan penghormatannya yang besar terhadap pengorbanan dan ketegaran warga Jalur Gaza dalam menghadapi kekejaman pasukan Zionis Israel.

Haniyah menyebut ketangguhan dan ketabahan rakyat Gaza melawan genosida Zionis Israel menjadi catatan sejarah yang tidak akan pernah terlupakan. Rakyat Gaza masih berdiri tegak di tengah bencana kejahatan yang menimpa mereka. Ini bagian dari ayat-ayat Allah di muka bumi, ini bukti mukjizat Allah di dunia. Ketegaran dan perlawanan ini membuktikan bahwa kemenangan akan segera tiba, laksana sinar pagi yang pasti akan menyingsing.

Ia menegaskan: “Ayat-ayat dan mukjizat Allah telah nyata di bumi Gaza.”

Meskipun Israel melakukan pembataian massal di Gaza dengan tujuan mempermalukan dan merendahkan rakyat Gaza, agar rakyat Gaza menyerah. Tapi Israel tidak akan pernah berhasil merendahkan rakyat Gaza.

Haniyah juga menjelaskan bahwa Hamas melakukan perlawanan atas pembantaian Israel di Gaza dengan dua pendekatan sekaligus. Pertama, pendekatan diplomasi. Hamas melakukan kontak-kontak yang positif dengan berbagai pihak yang benar-benar ingin menghentikan pembantaian Israel di Jalur Gaza.

Kedua, perlawanan tiada kenal henti menghadapi agresi Israel. Dalam hal ini, Haniyah memuji para pejuang Palestina di Gaza yang telah menunjukkan sikap heroiknya. Ia menegaskan bahwa rakyat Gaza akan terus melakukan perlawanan sampai meraih kemenangan.

“Gaza selamanya tidak akan pernah jatuh. Gaza tidak akan menyerah. Keyakinan kami akan menjadi pemenang. Kehendak kami akan menjadi penakluk. Akidah kami akan memerdekakan. Kemenangan milik bangsa Palestina. Dan kehancuran pasti mendera penjajah Zionis Israel.” Tegas Haniyah.


Read More …

Ada seseorang yang mendatangi saudaranya sesama muslim untuk mengadukan masalahnya. Sebenarnya ia bingung dan malu menyampaikan maksud kedatangannya, namun karena permasalahannya sudah sangat mendesak ia pun terpaksa mengutarakannya, itu pun dengan sangat hati-hati. “Kontrakan saya sudah mau habis, bagaimana menurut saudara?”, ia kehabisan ide untuk menyampaikan maksudnya lebih jelas.

“Ohh, saya kira sebaiknya saudara mencari kontrakan yang baru. Tempat tinggal yang sekarang nampaknya kurang baik untuk kesehatan seluruh anggota keluarga”, saran saudaranya itu.

Padahal, maksudnya bukan minta saran seperti itu, melainkan ia secara tidak langsung ingin meminta bantuan pinjaman uang untuk memerpanjang kontrakannya satu tahun atau setidaknya enam bulan ke depan. Perasaan tidak enak dan malu membuatnya bingung menyampaikan maksud hati yang sebenarnya.

Ia pun mencobanya kembali, “Usaha dagang saya sedang tidak bagus, bulan kemarin saja saya harus nombok dan terus merugi. Saya sudah kehabisan uang,” kali ini mulai lebih jelas.

Tapi, “Mungkin saudara belum benar-benar khusyuk dalam beribadah, belum serius dalam berdoa. Cobalah lebih banyak lagi menambah amalan-amalan sunnah, berdoalah lebih iba kepada Allah. Insya Allah, Dia akan lebih mendengar doa saudara. Tenang, saya saudaramu, saya juga akan mendoakan agar usahamu lancar dan berhasil,” rupanya masih belum nyambung.

Maksud ia mendatangi saudaranya itu sebenarnya sudah jelas untuk minta bantuan, bukan minta nasihat. Ia berharap saudaranya yang kelebihan harta dan memiliki beberapa bidang usaha itu mau memberinya modal usaha. Bukan doa yang dimintanya, padahal saudaranya itu memiliki sejumlah kontrakan, salah satu bidang usahanya.

Satu sisi, tidak ada yang salah dengan nasihat-nasihatnya. Mungkin betul saudaranya itu kurang dalam ibadahnya, jarang meminta kepada Allah. Tetapi bisa jadi sebaliknya, ada orang yang sudah benar-benar khusyuk dalam beribadah, dan tak melewatkan satu malam pun untuk berdoa dalam tahajjudnya, hanya saja Allah masih ingin menguji kesabarannya.

Faktanya, saat itu ia memerlukan bantuan saudaranya secara nyata. Bukan dalam bantuk doa dan nasihat. Entah itu sedekah atau pinjaman, karena memang itu yang benar-benar diharapkannya. Setelah memberi bantuan, terserah mau sebanyak apapun memberi nasihat, pasti akan didengarkan karena hatinya sudah sedikit tenang.

Orang yang tertimpa musibah dan mendapat kesulitan, sebaiknya tidak ditolong hanya dengan doa. Ringankan bebannya terlebih dulu, kemudian berilah ia nasihat kesabaran dan doakan agar ia bisa segera keluar dari kesulitannya. Sama halnya dengan saudara kita yang sedang sakit, ucapan “semoga lekas sembuh” memang sudah cukup sebagai bentuk perhatian. Namun bagi sebagian lain, kesembuhannya bisa lebih cepat dengan cara dikunjungi dan membawa sedikit buah tangan untuk menghiburnya. Bahkan, ada pula yang harus dibantu biaya perawatannya.

Jika ada saudara kita yang kelaparan, apakah akan merasa kenyang setelah kita doakan?


Read More …

Pada pribadi yang tidak berhati-hati, hatinya adalah penumbuh dari kekuatan yang mengkerdilkan, dan pembatal bagi semua perjalanan menuju kebaikan - tetapi penyegera bagi perjalanan menuju yang buruk.

Dalam diri manusia itu dimisalkan ada dua ekor Anjing, yaitu Anjing hitam dan Anjing putih.
Anjing hitam melambangkan kejelekan dan kejahatan, sedangkan Anjing putih melambangkan kebaikan. Dua ekor Anjing ini selalu bertengkar untuk mendapatkan peran yang lebih dominan dalam kehidupan kita, dan mereka tidak pernah mati; masalahnya adalah - anjing yang mana yang lebih kita perhatikan dan lebih sering kita beri makan.

Untuk orang orang yang berbuat kebaikan lebih banyak dari pada kejahatannya, maka Anjing putihnya lebih gemuk dari pada Anjing hitamnya. Demikian juga sebaliknya, jika dia lebih banyak beramal jahat, maka Anjing hitamnya lebih besar daripada Anjing putihnya.

Maka pastikanlah bahwa kecintaan Anda adalah kecintaan kepada yang baik, untuk melakukan yang baik, dan untuk tujuan yang baik. Karena kecintaan kepada dan dengan kualitas selain yang baik – akan membuat Anda melakukan semua hal yang bertentangan dengan kepentingan Anda untuk berhasil.

Untuk itu, ramahkanlah pengertian Anda kepada kebaikan. Ingatlah bahwa kebaikan bisa datang dari manapun dan melalui siapa dan apapun.

Mohon Anda sadari bahwa, tanggung jawab kita adalah menjadikan hari ini lebih baik dengan pelajaran yang kita unduh dari kesalahan-kesalahan kita di masa lalu, dan menjadikan hari esok lebih menjanjikan karena kelebihan-kelebihan yang kita capai hari ini.

Ingatlah, bahwa

Hanya kebaikan yang membaikkan.

Bukankah keburukan yang terjadi – tetapi yang kemudian menjadikan Anda lebih baik, adalah juga kebaikan?

Bila ada orang yang mengatakan bahwa proses untuk menjadi orang baik adalah upaya yang berat dan sulit, itu pasti karena dia belum memiliki kepekaan untuk mengenali kebaikan, dan mungkin lebih peka terhadap keburukan yang terjadi kepada dirinya dan lingkungannya, daripada terhadap berkah-berkah yang telah ada padanya sejak kelahirannya.

Dia tidak melihat bahwa untuk setiap kemungkinan buruk, ada kemungkinan baik yang lebih besar lagi – yang dapat direngkuhnya bila dia berpihak kepada kebaikan.

Dia tidak mengerti bahwa setiap penghindaran dari kebaikan, adalah sebuah pendekatan kepada keburukan.

Maka ramahkanlah diri Anda kepada semua hal yang baik, dan hindarilah yang tidak menjadikan Anda lebih baik.

Bila Anda berpihak sepenuhnya kepada kebaikan, Anda akan sangat peka dalam mengenali keburukan, bahkan bila ia berlaku seperti semut hitam yang merayap di atas batu hitam di malam hari yang kelam.
Read More …

Dikisahkan, seorang mandor bangunan yang sedang bekerja di sebuah gedung bertingkat, suatu ketika ia ingin menyampaikan pesan penting kepada tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Mandor ini berteriak-teriak memanggil seorang tukang bangunan yang sedang bekerja di lantai bawahnya, agar mau mendongak ke atas sehingga ia dapat menjatuhkan catatan pesan. Karena suara mesin-mesin dan pekerjaan yang bising, tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya tidak dapat mendengar panggilan dari sang Mandor. Meskipun sudah berusaha berteriak lebih keras lagi, usaha sang mandor tetaplah sia-sia saja.

Akhirnya untuk menarik perhatian, mandor ini mempunyai ide melemparkan koin uang logam yang ada di kantong celananya ke depan seorang tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Tukang yang bekerja dibawahnya begitu melihat koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak kemudian mengambil uang logam itu, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Beberapa kali mandor itu mencoba melemparkan uang logam, tetapi tetap tidak berhasil membuat pekerja yang ada di bawahnya untuk mau mendongak keatas.

Tiba-tiba mandor itu mendapatkan ide lain, ia kemudian mengambil batu kecil yang ada di depannya dan melemparkannya tepat mengenai seorang pekerja yang ada dibawahnya. Karena merasa sakit kejatuhan batu, pekerja itu mendongak ke atas mencari siapa yang melempar batu itu. Kini sang mandor dapat menyampaikan pesan penting dengan menjatuhkan catatan pesan dan diterima oleh pekerja dilantai bawahnya.

Sahabat yang baik, untuk menarik perhatian kita manusia sebagai hambaNya, Allah SWT seringkali menggunakan cara-cara yang menyenangkan, namun kadangkala juga dengan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan. Allah seringkali menjatuhkan "koin uang" atau memberikan kemudahan rejeki yang berlimpah, agar kita manusia mau mendongak keatas, mengingat-Nya, menyembah-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan lebih banyak bersyukur atas rahmat-Nya. Tuhan seringkali memberikan begitu banyak berkat, rahmat dan kenikmatan setiap harinya kepada kita manusia, agar kita mau menengadah kepada-Nya dan bersyukur atas karunia-Nya. Namun, sayangnya seringkali hal itu tidak cukup membuat kita manusia untuk mau mendongak keatas dan bersyukur atas rahmat-Nya. Seringkali hal itu belum cukup membuat kita mau memberikan perhatian lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya.

Karena itu, kadang-kadang Tuhan menggunakan pengalaman-pengalaman menyakitkan, seperti menerima kegagalan, rasa sakit, kemiskinan, kesulitan, musibah, bencana dan berbagai pengalaman menyakitkan lainnya untuk menarik perhatian manusia agar mau mendongak keatas. Menarik perhatian kita untuk mau menengadah kepada-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya. Dengan demikian, kesulitan dan pengalaman-pengalaman menyakitkan yang kadang kala diterima manusia, hendaknya diterima sebagai peringatan dari Tuhan untuk menarik perhatian kita. Hendaknya hal itu membuat kita semakin mempererat hubungan dengan Allah swt. Hendaknya hal itu mengajarkan kita untuk mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah. Hendaknya hal itu menyadarkan kita adalah makhluk-Nya yang sangat lemah dan tidak berdaya.

Sahabat yang baik, sudah begitu banyaknya rahmat dan berkah Allah senantiasa mengalir setiap detiknya kepada kita semua manusia. Seperti memiliki pekerjaan yang baik, memiliki kesehatan yang kita rasakan, memiliki kedua mata untuk melihat dunia, kedua kaki yang menopang tubuh kita, kelengkapan panca indra yang sempurna, mendapatkan rejeki yang kita nikmati setiap hari, keluarga yang bahagia dan lain sebagainya. Semua itu sesungguhnya adalah rahmat dan berkah dari Allah SWT yang tak ternilai harganya. Sudahkah hal itu menjadikan kita selalu menengadahkan wajah kepada-Nya, mengingat-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya ? Ataukah hal itu belum menarik perhatian kita, sehingga menunggu Allah menjatuhkan "batu" kepada kita ?. Semoga kita dapat lebih menyadari dan selalu mengingat-SANG PENCIPTA tanpa menunggu kehadiran batu-batu kecil sebagai tanda pengingat kepada-Nya.
Read More …

Tuhanku,

Aku hanyalah sebutir pasir di gurun-MU yang luas

Aku hanyalah setetes embun di lautanMU yang meluap hingga ke seluruh samudra

Aku hanya sepotong rumput di padangMU yang memenuhi bumi

Aku hanya sebutir kerikil di gunung MU yang menjulang menyapa langit

Aku hanya seonggok bintang kecil yang reduo di samudra langit Mu yang tanpa batas

Tuhanku
Hamba yang hina ini menyadari tiada artinya diri ini di hadapanMU
Tiada Engkau sedikitpun memerlukan akan tetapi
hamba terus menggantungkan segunung harapan pada MU

Tuhanku..baktiku tiada arti, ibadahku hanya sepercik air
Bagaimana mungkin sepercik air itu dapat memadamkan api neraka MU
Betapa sadar diri begitu hina dihadapanMU
Jangan jadikan hamba hina dihadapan makhlukMU
Diri yang tangannya banyak maksiat ini,
Mulut yang banyak maksiat ini,
Mata yang banyak maksiat ini

Hati yang telah terkotori oleh noda ini,memiliki keninginana setinggi langit
Mungkinkah hamba yang hina ini menatap wajahMu yang mulia???

Tuhan...Kami semua fakir di hadapan MU tapi juga kikir dalam mengabdi kepada MU
Semua makhlukMU meminta kepada MU dan pintaku.
Ampunilah aku dan sudara-saudaraku yang telah memberi arti dalam hidupku
Sukseskanlah mereka mudahkanlah urusannya

Mungkin tanpa kami sadari , kamu pernah melanggar aturanMU
Melanggar aturtan qiyadah kami,bahkan terlena dan tak mau tahu akan amanah
Yang telah Tuhan percayakan kepada kami,Ampunilah kami

Pertemukan kami dalam syurga MU dalam bingkai kecintaan kepadaMU
Tuhanku.Siangku tak selalu dalam iman yang teguh
Malamku tak senantiasa dibasahi airmata taubat,
Pagiku tak selalu terhias oleh dzikir pada MU
Begitulah si lemah ini dalam upayanya yang sedikit
Janganlah kau cabut nyawaku dalam keadaan lupa pada Mu
Atau.dalam maksiat kepadaMU
Ya Tuhanku Tutuplah untuk kamu dengan sebaik-baiknya penutupan !!
Read More …

Cinta... tiada satu pun di dunia ini yang menafikan karena cinta sendiri merupakan senyawa yang menjadi fitrah manusia sejak dia ada. Sekarang, permasalahan yang muncul adalah apakah kita bisa menumbuhkan benih cinta yang ada di dalam hati sesuai dengan porsinya? Apakah kita mampu mensinkronisasikan cinta dengan dakwah yang telah menjadi darah daging kita sendiri? Ataukah kita memisahkan cinta dengan dakwah lalu jatuh terluka karena telah mencabik-cabiknya dari nyawa? Kita letakkan harapan pada hamba, yang bahkan masih mengeja makna cinta. Sedangkan cinta hanya mau berharap pada Ilahi Rabbi-Tuhan yang telah menjadikannya ada.

Andaikan kita menjadi seorang aktivis yang telah jatuh cinta pada seorang pengemban dakwah lainnya, apakah kita adalah orang yang lantas tergelincir dari jalan dakwah ataukah kita mampu bertahan lalu menjaga cinta kita sebagai rahasia saja? Atau jangan-jangan kita biarkan cinta dan dakwah berjalan beriringan. Kita berjuang untuk Allah sekaligus untuk mendapatkan cinta dari aktivis dakwah lainnya juga. Padahal kita mengetahui hanya amal yang niat tulus karena Allah saja-lah yang diterima oleh Allah.

Wahai para pengemban risalah Allah, sadarlah... Hanya kejujuran dan ketulusan sajalah yang mampu mengalahkan semua niat yang telah ternoda di dalam dada. Ketika niat telah terkotori dan cinta telah berharap pada selain Allah, jujurlah pada Allah. Utarakan kepada Allah dengan sejujurnya keinginanmu yang sebenarnya. Jika ingin bersatu dengannya, mintalah... Pun ketika hati ini ingin diluruskan oleh Allah, dihilangkan bayang-bayang dirinya dari pikiran, maka mintalah... Jujurlah pada Allah... Kenapa kita harus menutupi hal yang tampak di hadapan-Nya?

Tulus dan jujurlah hanya kepada Allah-Rabb yang Maha Mengetahui segala isi hati. Karena hanya Allah saja yang mampu jujur dan tulus kepada kita. Bukan pendamping dakwah yang kita harapkan atau bahkan lingkungan yang mungkin juga sedang futur.

Lalu ketika Allah telah membalas kejujuran itu, maka saatnya untuk tulus kepada Allah. Tulus atas apapun keputusan Allah yang diberikannya kepada kita. Seandainya Allah mengabulkan doa-doa kita, anggaplah ini sebagai kado kecil dari-Nya karena kita telah jujur pada-Nya. Jika Allah mengizinkan kita bersatu dengan kekasih hati, maka tuluskan lagi niat kita hanya karena Allah. Maka insyaAllah perjalanan dakwah ini dengan kekasih hati akan lebih indah dan diridhoi oleh-Nya. Sedangkan bila Allah justru memisahkan kita dengan kekasih hati, maka kita juga harus berusaha tulus menerima segala keputusan Allah. Ini adalah keputusan terbaik dari Allah dan tiada yang bisa menandinginya. Yakinlah dengan keputusan Allah ini, maka insyaAllah penggantinya akan lebih baik dari apa yang selama ini kita bayangkan.

InsyaAllah dengan kejujuran dan ketulusan cinta ini maka aktivis dapat melangkah di jalan dakwah dengan keyakinan teguh dan kesabaran. Akivis menjadi insan yang istiqomah melangkah di jalan dakwah. Aktivis menjadi mujahid yang berhasil dari segi strategi dan segi kesucian cinta. Semoga kita semua menjadi aktivis yang mampu jujur dan tulus kepada Allah atas fitrah cinta yang telah menjadi senyawa dalam jiwa kita. Amin...
Read More …