It's Time to Change

Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan


Pagi-pagi ba'da shubuh dan bebenah, seperti biasa acara rutin sebagian ibu-ibu adalah belanja.Demikian pula aku. Udara masih dingin kala itu. Kuturuni tangga kontrakanku. Kujumpai sebagian ibu-ibu berjalan menuju titik yang sama, tempat belanja! Tanah kapling di bawah kontrakanku masih banyak yang belum dibangun. Aku berjalan tepat di samping rumah ustadz
Hidayat Nurwahid, Ketua MPR RI. Di belakang rumah beliau, rumput masih banyak tumbuh dan tanah sedikit berair menyisakan tanda-tanda rawa yang masih belum sepenuhnya teruruk.

Aku terus berjalan. Naik beberapa tangga, melalui pintu gerbang SDIT Iqro' Pondok Gede yang sudah terkuak. Rumah ustadz Rahmad Abdullah yang asri dan sederhana kulewati. Rumah yang tiap dua hari sepekan kusambangi sebab di situlah aku belajar tahsin pada istri beliau. Aku terus berjalan melalui beberapa rumah para aktvis da'wah hingga akhirnya sampailah ke tempat
belanjaan.

Belum selesai aku memilih-milih, tiba-tiba muncul laki-laki yang di lingkungan kami sangat dikenal dan tidak asing. Beliau bersama putranya. Kemunculannya tentu sangat tidak diduga. Kami para ibu pun mempersilakan beliau untuk mendapat pelayanan terlebih dulu. Beliaulah satu-satunya laki-laki saat itu. Aku memperhatikannya. Subhanallah, tak ada kecanggungan.

Sesampai di rumah kuceritakan apa yang kulihat pada suamiku, dengan penuh kekaguman.

"Ya, begitulah yang terjadi dalam keluarga beliau. Saling taawun antara suami istri tanpa harus dibatasi oleh pemisahan pekerjaan yang kaku," komentar suamiku yang berinteraksi cukup intensif.

Esoknya aku menjalani rutinitas yang sama, belanja. Di jalan, aku berpapasan dengan laki-laki itu kembali, bersama putranya.

"Belanja ustadz?" Aku sengaja menyapa.

"Iya, istri lagi sakit perut dan khodimah (pembantu) pulang," jawab beliau sambil tersenyum.

Aku mengangguk-angguk. Subhanallah, aku jadi teringat Ammar bin Yasir ketika menjabat sebagai Gubernur. Beliau kadang belanja di pasar dan mengikat serta memanggul sayuran sendirian. Inilah profil yang perlu dijadikan teladan.

Laki-laki yang saya jumpai itu, yang belanja di tukang sayur itu adalah ustadz Ahmad Heriawan Lc. Beliau adalah ketua Partai Keadilan DKI Jakarta dan anggota DPRD DKI Jakarta. Saya tidak akan terheran-heran jika beliau belanja bersama istri dan anak-anaknya di Supermarket, yang bagi
keluarga muda atau keluarga jaman sekarang hal yang biasa dan sangat tidak tabu. Tetapi ini harus berbelanja dan ikut antri dengan para ibu rumah tangga, walau pada akhirnya beliau dipersilakan untuk dilayani lebih dahulu.

Lagi-lagi dengan takjub saya menceritakan apa yang saya lihat kepada suami saya. Sebagai orang yang intensif bertemu dengan beliau bahkan banyak menimba ilmu kepada beliau, suami saya berkata,

"Ustadz Heriawan memang subhanalloh Dik. Sebagai muridnya, saya merasakan kedekatan. Ketika sholat jama'ah di masjid misalnya, beliau kadang-kadang secara tiba-tiba merangkul saya dari belakang. Saya juga beruntung mempunyai jadwal ronda dengan beliau."

Ya, suami saya memang beruntung, beliau mendapat jadwal ronda bersama ustadz Ahmad Heriawan dan Ustadz Satori Ismail, sehingga pembicaraan kala ronda adalah pembicaraan pembicaraan yang bermutu.

Ah… saya jadi menghayal, seandainya negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang berakhlaq mulia, yang mempunyai keharmonisan keluarga, yang dekat dengan anak dan istrinya, yang mempunyai hubungan baik dengan para tetangga, yang memuliakan wanita dan kaum papa, betapa indahnya
dunia. Saya jadi teringat cerita sederhana dari istri beliau.

"Ayahnya Khobab (ustadz Ahmad Heriawan) sangat suka sayur lodeh nangka. Suatu saat beliau meminta saya untuk memasaknya. Begitu tahu bahwa ternyata membuat sayur lodeh nangka itu membutuhkan proses yang begitu lama, beliau pun berkata, "Sudah Bu, sekali ini saja. Kalau tahu
bahwa prosesnya begini lama, ayah tak akan meminta dibikinkan. Dari pada waktu demikian panjang hanya habis untuk bikin sayur, mending buat baca atau untuk mengerjakan yang lain."

Nampaknya sangat sederhana, namun saya melihat ada satu hal yang luar biasa, tersirat dalam ungkapan itu, pemberian peluang yang luas bagi berkembangnya istri.

Saya memang harus banyak belajar dari keluarga pimpinan saya yang sempat menjadi tetangga saya itu. Yang jika orang-orang terkenal memberikan tarif dalam ceramah-ceramahnya, beliau malah
pernah menolak ceramah dengan bayaran cukup lumayan karena harus terikat dengan pola yang diterapkan penyelenggara. Maka jangan heran, jika kita mengundang beliau dan memberikan "amplop" dengan mengatakan uang transport, maka seluruh uang yang ada di dalam amplop itu
akan beliau gunakan untuk membayar jasa transportasi, dan tak menyisakan untuk kantong beliau sendiri.

Ah,itukah sibghoh Allah? Sebuah generasi yang dijanjikan oleh Alllah dalam surat Al-Maidah: 54 itu semoga kian dekat di sekitar kita, dan semoga memang sudah ada di sekitar kita.

Diambil dari buku "Bukan di Negeri Dongeng"


Read More …


Siapa yang tak kenal dengan tokoh da'wah yang satu ini.Bahkan demi mengenangnya sampai-sampai kisah hidup beliau dijadikan sebuah film berjudul "Sang Murobbi".Ia dialah KH>Rahmas Abdullah sang Syaikhut Tarbiyah.KH Rahmat Abdullah dilahirkan di kota Jakarta pada tanggal 3 Juli 1953. Putra kedua dari 4 (empat) bersaudara ini hidup dari keluarga asal Betawi yang sederhana dan taat beragama. Pada usia 11 tahun ia harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, saat itu ia mulai berstatus sebagai seorang anak yatim.

Awal pendidikan resminya, disamping dididik oleh kedua orangtuanya, ia memasuki sebuah perguruan Islam yang terkenal di Jakarta, Perguruan Asy-Syafi'iyah bimbingan KH Abdullah Syafi'i (tokoh Islam yang berwibawa di kota ini) hingga menamatkan sekolah tingkat Aliyah (tingkat menengah) dengan prestasi yang gemilang.

Rahmat Abdullah muda sangat berbeda dengan kaum remaja seusianya pada saat itu. Ia taat beribadah, disamping mempunyai karakter dan akhlaq yang mulia. Hari-harinya dihabiskan untuk belajar, membaca dan membaca. Bahkan di usianya yang sangat muda, ia telah memposisikan dirinya sebagai guru ditempat ia menuntut ilmu.

Dunia ilmu adalah dunia yang sangat melekat dalam dirinya. Kegemarannya membaca al Qur'an dan aneka buku membuat ia jauh lebih cepat matang dibandingkan dengan remaja-remaja lain pada umumnya.Di saat inilah ia banyak membaca pikiran-pikiran para tokoh perjuangan, seperti HOS Cokro Aminoto, Moh. Natsir, Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, Maududi dan tokoh-tokoh lainnya.Di samping ia tetap menekuni kitab-kitab klasik (kitab kuning) sebagai warisan sejarah.

Kebersihan jiwanya telah mengantarkan Rahmat Abdullah menjadi pemuda pembelajar cepat yang sangat cemerlang seperti sebuah lautan ilmu tanpa menyandang gelar. Ia perpaduan antara khazanah ilmu-ilmu keislaman klasik dan pandangan Islam modern yang tidak dimiliki oleh banyak orang yang berlabel sang ustadz.

Dunia seni dan sastra sebagai media komunikasi budaya juga merupakan bagian bagi dirinya yang tak pernah lepas. Antara bakat dan semangat yang telah melekat. Ia gemar dzikir dan fikir, membaca fenomena alam yang kemudian diekspresikan dalam bentuk produk seni, seperti puisi, esai, butir-butir nasyid dan naskah drama. Oleh karena itulah banyak orang cenderung menjulukinya sebagai seorang “budayawan”.

Sebagai da’i sejati, ia habiskan waktu, tenaga serta pikirannya untuk kegiatan da’wah. Siang dan malam dilaluinya pengajian demi pengajian tanpa mengenal lelah dan keluh kesah. Ia menjadi tempat anak-anak muda berkonsultasi, berbagi rasa, curahan hati tanpa ada batas waktu “pelayanan ummat”. Itulah peran yang ia mainkan hingga kini.

Sebagai seorang Muballigh, ia dikenal memiliki karakter yang khas. Kemampuan retorika tinggi yang dihiasi oleh sentuhan sastra yang unik, acap kali membuat para pendengar menangis sebagaimana kemampuan ia membangkitkan semangat yang menggelora ketika ia mengangkat isu tentang jihad.

Beliau juga aktif mengisi ceramah di radio dan televisi. Beliau adalah pengisi rutin rubrik “Titik Pandang Rahmat Abdullah” di Radio Dakta Bekasi setiap Sabtu jam 06.30 WIB. Di radio ini pula beliau menggagas rubrik SAMARA yang disiarkan setiap malam Rabu.

Sebagai seorang penulis, beliau aktif menulis buku dan mengisi rubrik di beberapa majalah Islam, seperti majalah Sabili, Islah, Saksi, Ummi, dan Tarbawi. Di majalah yang disebutkan terakhir inilah, beliau secara rutin mengisi rubrik Asasiyat yang kemudian oleh Pustaka Dakwatuana diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul “Untukmu Kader Dakwah” pada tahun 2005.

Awal tahun 80-an, ia memasuki dunia harokah Islamiyah yang pada saat itu mulai tumbuh di Indonesia hingga menghantarkan beliau sebagai pakar dalam bidang Tarbiyah, majalah Sabili pernah memberinya gelar “Syaikh at Tarbiyah” pada tahun 2001. Dengan bermodalkan sepeda motor tua ia masuk kampung keluar kampung, masuk kampus keluar kampus menabur fikrah Islamiyah yang shahih dan syamil. Fikrah Ikhwanul Muslimin yang didistribusikan ternyata mendapat sambutan yang hangat dari berbagai kalangan yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya PKS.

Awal tahun 90 beliau memasuki pengembangan dunia pendidikan dan sosial secara formal, sebagai wujud dari kepeduliannya terhadap lingkungan. Ia mendirikan ISLAMIC CENTER IQRO’ yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan da’wah di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Di sinilah ia menetap dan disinilah ia berekspresi mengembangkan cita-citanya melalui kajian kitab-kitab klasik setiap Ahad pagi.

Proses perjalanan da’wah yang panjang akhirnya telah menggiringnya pada keterlibatan dalam dunia politik yang kini ia geluti. Partai Keadilan yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), adalah bagian dari dirinya. Ia salah satu pendiri dari partai yang berbasis islam intelektual itu.

Posisi tertinggi dalam partai, yang pada saat ini diperhitungkan itu, telah dicapainya. Sebagai bentuk kepercayaan penduukung terhadapnya. Disamping ia menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) dan Majelis Syuro, iapun menjabat sebagai anggota DPR-RI (parlemen).

Hari-harinya diwarnai oleh kesibukan yang luar biasa. Mengajar, ceramah di berbagai stasiun radio dan televisi, mengisi seminar-seminar keislaman di berbagai daerah dan luar negeri, menulis artikel di sejumlah media cetak, disamping melakukan tugas lobby politik dengan berbagai kalangan.

Di akhir hayatnya, beliau masih sempat mengikuti rapat Lembaga Tinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Selasa (14 Juni 2005) di Gedung Kindo Duren Tiga Jakarta Selatan yang dimulai ba’da Ashar sekitar jam 16.30 WIB. tak ada tanda-tanda kalau beliau sedang sakit. Wajahnya cerah seperti biasa. Namun, ketika beliau wudhu untuk menunaikan shalat Maghrib, beliau merasakan sakit di sekitar kepalanya. Beliau sempat diperikas dr. Agus Kushartoro, Direktur Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Ia dinyatakan terkena stroke. Sempat dibawa ke rumah sakit Triadipa Pancoran, akan tetapi karena peralatannya kurang memadai, beliau lalu dibawa ke rumah sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta. Namun di tengah perjalanan, beliau dipanggil Allah Swt. Beliau wafat dalam usia 52 tahun, meninggalkan satu istri dan tujuh orang anak.

SELAMAT JALAN MUJAHID DAKWAH. MURIDMU, KADER-KADERMU AKAN MENERUSKAN CITA-CITA DAN PERJUANGANMU.


Read More …

Visi
Karunia Tuhan yang luar biasa kepada manusia adalah otak yang menjadi wadah bagi aktifitas berpikirnya. Otak manusia memiliki kemampuan yang begitu menakjubkan dalam menampung sebanyak mungkin informasi. Tetapi kemampuan ini tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan kemampuan otak manusia dalam berimajinasi merancang dan mengkhayalakan sebuah visi kehidupan .

Untuk terus bertumbuh berkualitas anda harus selalu mengingat –ngingat dan terikat kuat dengan visi hidup anda .Anda bisa juga menyebutnya cita cita , harapan , atau rencana janka panjang . Itu terserah anda. Tetapi anda punya kesempatan untuk terus menerus mengingat visi hidup anda itu dalam kesempatan doa – doa anda , saat anda menyampaikan harapan harapan hidup anda pada Tuhan . Ya memang saat saat berdoa adalah saat yang paling personal , karena biasanya doa adalah adalah himpunan semua harapan / visi hidup yang disampaikan kepada Tuhan
Anda perlu arah dalam aktifitas serta sepak terjang anda dalam bekerja. . Sebagaimana juga anda butuh efektifitas , efisisiensi serta produktifitas . Ini hanya mungkin ada kalau anda punya keterikatan yang kuat pada visi hidup anda .Dan agar anda terikat dengan visi hidup anda , maka anda harus selalu mengupayakan agar visi hidup itu ideal dan berpusat pada sesuatu yang kekal .

Saya sendiri selalu menemukan keterarahan dan kegairahan sesaat setelah beribadah dan berdoa menghadap kepadaYang Maha Menguasai Hidup .disaat bisa mengucapkan kalimat ini dalam doa saya :

Ya Allah berilah hamba-Mu ini kekuatan untuk terus beribadah , memberdayakan diri dengan ilmu , berbuat dan berbagi kebaikan kepada sesama , memberdayakan dan membimbing sesama , serta berjuang menyebarkan kebenaran-Mu , dengan ikhlas , sabar dan istiqomah dijalan-Mu. Dan akhirnya ridhoilah hamba untuk dapat memasuki surgamu kelak
Kerja Keras
Suatu saat seorang negarawan berkata kepada rakyatnya yang masih sibuk beribadah justeru pada jam jam kerja .Katanya : ” Jangan sampai ada diantara kalian yang duduk duduk saja menganggur tanpa bekerja mencari rezeki, sedang dia berdoa : Ya Allah berilah saya rezeki , sementara dia tahu bahwa langit tidak pernah menurunkan emas dan perak , sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada kalian melalui kegiatan usaha diantara kalian …”
Apa yang membuat negara ini , yang penuh dengan pemeluk agama tetapi tidak bisa tumbuh menjadi negara dengan daya saing tinggi ? Jawabannya dapat kita temukan pada statement sang negarawan diatas .
Ya negara ini tumbuh dengan sebagian besar rakyatnya salah memahami doktrin doktrin dasar agama.Agama yang seharusnya bisa menjadi pemicu dan pemacu kerja keras , tiba tiba hanya dipahami sekedar sebagai himpunan ritual ibadah yang diyakini dapat menggantikan fungsi kerja keras dan ikhtiyar.

Kepasrahan
Jika visi memberi anda arah dalam hidup ini , dan kerja keras memberi pencapaian tahap demi tahap menuju visi hidup anda , maka kepasrahan memberi kekuatan jiwa kepada anda untuk dapat berjiwa besar pada saat anda sukses mencapai visi anda atau gagal mencapai visi hidup anda.
Kepasrahan adalah kepercayaan manusia kepada Tuhannya yang menguasai dan mengatur secara mutlak segala urusan didalam kehidupan ini ,yang pasti akan memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya
Maka ketika berhasil ,kepasrahan memberi kontrol diri untuk tidak takabur dan menjauhkan sifat melupakan Tuhan, dan terus meningkatkan kualitas diri .Akan tetapi ketika gagal , kepasrahan ini memberi kendali untuk tidak berputus asa dan memberi dorongan untuk tetap memulai usaha sekali lagi dengan cara yang berbeda yang lebih cerdas.

Jadi pada akhirnya saya ingin mengatakan , jika anda ingin terus tumbuh menjadi pribadi yang produktif , kotributif dan prestatif dalam kehidupan ini , ingat dan ikatkan diri anda kepada visi hidup anda secara terus menerus .Ini akan selalu mendorong diri anda untuk bekerja keras mencapai apa yang menjadi cita cita besar hidup anda . Tetapi setelah itu anda tidak boleh mendahului kehendak dan kekuasaan Tuhan yang mutlak dalam hidup ini , serahkan dan pasrahkan saja hasil yang ingin anda harapakan kepada-Nya . Dengan kepasrahan ini anda akan dapat menunggu keputusan –Nya dengan suasana jiwa yang penuh ketenangan dan jauh dari guncangan kegelisahan .
Read More …

Kalau kita ibaratkan dengan bermain sepak bola atau bola basket dan yang berlari kencang hanya bagian penyerang, sedangkan bagian gelandang dan pertahanan larinya tidak sekencang penyerang. Apa yang terjadi? Jomplang bukan? Ditonton juga tidak enak. Apalagi sebagai anggota tim, kecepatan yang tidak sama ini akan membuat frustasi dan kehabisan napas untuk bagian tertentu yang berlarinya lebih kencang. Yang nonton lebih frustasi lagi.

Bergerak Seirama
Dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan atau objek, frontliner adalah bagian depan yang tidak bisa sendirian bekerja dan tidak bisa lari “sendiri” dengan kecepatan yang berbeda dengan bagian belakang. Boleh saja berbeda, asal yang belakang bisa mengikuti. Yang terbaik adalah jika semuanya seirama. Teamwork bukan hanya “sharing goals” atau “communicate goals” atau hanya mengerti tujuan dan membagi tugas untuk mencapai tujuan. Namun, yang lebih penting adalah “sharing spirit” atau “motivation” untuk mencapai goal. Ketika spirit anggota tim tidak sama, maka mereka akan merasa kelelahan karena sinergi tidak tercapai.

Ibarat Tarik Tambang
Dalam pertandingan lain yang cukup unik, tarik tambang. Irama dan spirit yang sama menghasilkan suatu keperkasaan yang menakjubkan. Tim yang “all out” terlihat sekuat tenaga sampai tak enggan jatuh bangun untuk menambah kekuatan dan menang. Mengapa ini terjadi? Coba perhatikan, mereka diikat oleh suatu tambang di mana semua anggota berpegangan pada tambang yang sama. Inilah yang membuat perbedaan dengan olahraga lainnya. Jika olahraga lain anggota tim disatukan oleh pelatih yang kuat leadership nya, sedangkan anggota tarik tambang tidak ada pelatih yang mengaba-aba, yang ada hanyalah sistem “ikatan” di mana setiap anggota terkoneksi dengan tambang yang membuat mereka merasa berada di dalam sistem. Dan setiap anggota percaya akan kontribusi anggota lainnya, serta berusaha memberikan yang terbaik. Baik sepak bola, basket maupun tarik tambang, setiap anggota timnya mempunyai peranan yang jelas dan menentukan kemenangan.

Leadership, Sistem dan Keberagaman Peran Anggota
Leadership dan sistem yang bagus, yang searah dan yang mengikat anggota tim inilah yang mampu memotivasi setiap anggota untuk bersama-sama menyumbangkan resources yang mereka miliki untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan.

Di samping punya pemimpin dengan style yang mampu mengkoordinasikan anggota tim, diperlukan juga keberagaman peran anggota tim, bukan keseragaman pendapat. Justru keberagaman ini diperlukan untuk menciptakan “constructive conflicts”, yang membuat keputusan yang diambil tim menjadi berimbang dan berkualitas.

Sistem operasional yang diibaratkan sebagai “tambang” harus mampu mengikat anggota tim, terutama yang bersifat cross functional team. Upayakan agar yang mengikat mereka bukanlah departemental atau divisional vertical line, tetapi sebuah “service chain”. Sebab jika anggota tim tidak sadar bahwa mereka berada di satu tambang, akan sulit bagi mereka untuk mempunyai spirit motivasi yang sama. Bagi para penyeru Al Haq, tambang pemersatu itu adalah agama Allah. Difirmankan Allah SWT di Surat Ali Imran Ayat 103, ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai……” Selamat bekerja!
Read More …

Pertama kali untuk membangun sebuah tim yang solid, yang harus anda lakukan adalah dengan mengenali siapa diri Anda. Pahami, siapa Anda sebenarnya, kenali karakter Anda, bagaimana sikap Anda terhadap orang lain, dan bagaimana Anda melihat peluang yang ada.
Yang kedua, yakinkan pada diri Anda, bahwa Anda adalah bagian dari sebuah tim yang hebat. Kuatkan keyakinan bahwa Anda dapat diterima dengan baik oleh orang lain. Perasaan takut ditolak, takut bergaul, minder, adalah akar dari ketidakpercayaan diri Anda, sehingga Anda malas untuk bekerja sama dengan orang lain.
Yang ketiga, jalin komunikasi yang efektif dengan orang-orang sekeliling Anda, terutama tim Anda. Sering-sering bersilaturahmi dengan mereka, sharing, berbagi apa saja dengan tim Anda. Jangan biasakan Anda berkomunikasi ketika ada maunya saja, atau hanya kalau ada pekerjaan. Sering-sering berkunjung kerumah, atau buat acara mabit bersama.
Yang Keempat, gali apa keinginan, visi dari tim Anda. Rumuskan tujuan, visi, misi dan motto dari tim Anda. Rumusan visi, misi yang tim Anda buat, haruslah benar-benar keluar dan merupakan aspirasi dari anggota tim. Bukan sebuah instruksi, paksaan dan pesanan dari orang-orang tertentu.
Kelima, budayakan dialog dengan tim Anda. Dengan dialog Anda akan mendapatkan banyak hal. Anda akan tahu permasalahan tim Anda dengan dialog.
Keenam, Jadilah manusia pembelajar. Manusia pembelajar adalah manusia yang dalam dirinya, tidak ada kata berhenti untuk belajar. Manusia pembelajar adalah dia yang dengan gigihnya selalu berusaha menggapai kesempurnaan, dengan terus memperbaiki diri.
Ketujuh, jadilah tim Anda sebagai Learning Team, atau Learning Organization. Organisasi pembelajar adalah organisasi yang memberikan kesempatan dan mendorong setiap individu yang ada dalam organisasi tersebut untuk terus belajar dan memperluas kapasitas dirinya. Dia merupakan organisasi yang siap menghadapi perubahan dengan mengelola perubahan itu sendiri
Read More …

Sepakbola merupakan olahraga yang paling banyak digemari di dunia ini, bahkan saya sangat menggemari olahraga ini..hehehe ( Jadi rindu sama teman-teman SMA...rindu sama Perisai FC ). Olahraga ini dimainkan dimana-mana, mulai dari kota sampai pelosok desa, mulai dari yang terorganisasi sampai yang tidak terorganisasi. Kalau kita mau sedikit merenung, ternyata banyak juga pelajaran yang bisa kita petik dari sepakbola. Antara lain :

* Dalam sebuah kerjasama, kita tidak boleh egois dan harus tahu posisi dan tanggung jawab masing-masing, untuk mencapai satu tujuan bersama. Sebagaimana dalam sepakbola, tidak semua pemain harus mencetak gol, tetapi yang penting adalah bagaimana semuanya berkontribusi untuk terciptanya sebuah gol

* Kita harus memberikan kepercayaan kepada orang lain. Dalam sepakbola, seorang pemain harus percaya bahwa teman-temannya sanggup bermain pada posisinya masing-masing. Selama bermain, kita harus bisa memberikan kepercayaan kepada setiap teman-teman kita dengan cara memberikan bola kepadanya ketika ia berada dalam posisi yang terbaik untuk menerima bola

* Kita harus memiliki strategi dan taktik agar bisa mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana dalam sepakbola, harus ditetapkan formasi timnya serta gaya permainannya

* Kehidupan ini memiliki aturan main dan kita tidak boleh melanggarnya. Jika kita melanggarnya maka kita akan menerima akibat buruknya. Dalam kehidupan ini, aturan main itu tidak lain adalah hukum-hukum Allah. Dalam sepakbola, begitu juga khan ?

* Kita harus bisa bekerja secara efisien. Sebagai contoh, jika kita bisa memindahkan bola dari satu titik ke titik yang lain dengan mengumpankannya, maka kita tidak perlu menggiringnya. Mengapa, karena mengumpan lebih cepat dan lebih hemat energi daripada menggiring

* Kita harus bisa memberikan yang terbaik untuk orang lain. Jika kita memberi umpan kepada teman kita maka kita harus memberikan bola yang paling mudah untuk diterima. Jika teman kita dalam keadaan berhenti, berilah ia umpan di kakinya. Namun jika ia sedang berlari, berilah ia umpan di depannya secara terukur

* Kita harus memiliki pandangan yang luas. Dalam menghadapi setiap permasalahan, kita harus memandangnya dengan pandangan yang luas dan tidak picik. Sebagaimana dalam sepakbola, visi (pandangan) merupakan hal yang sangat penting. Dengan visi yang luas, seorang pemain akan bisa menentukan kemana ia harus mengumpan dan menggiring bola serta kemana ia harus bergerak

* Dalam hidup ini kita tidak boleh bersantai-santai saja. “Dan jika engkau telah selesai dari suatu urusan maka kerjakanlah urusan yang lain” (QS Al-Insyirah : 7). Selesai Anda mengumpan, Anda tidak boleh hanya diam dan bengong memandangi bola saja. Anda harus segera bergerak untuk mencari posisi yang terbaik

* Pikiran kita tidak boleh terkungkung. Kita harus bisa menciptakan gagasan-gagasan baru. Sebagai contoh, jika bola yang kita kuasai terperangkap di daerah kelewat padat (overload, dikeroyok lawan) maka kita harus memindahkan bola ke bagian lain lapangan yang kosong. Manfaatkanlah lebar lapangan

* Jangan tergesa-gesa dan ’grasa-grusu’. Kita harus bisa berlaku sabar. Jika jalan ke depan terhalang oleh pertahanan lawan yang ketat, jangan memaksakan diri membawa bola ke depan. Umpan-umpankan dulu bolanya ke samping atau bahkan ke belakang sambil mencari celah untuk bisa merangsek ke depan. Demikian pula, jika Anda bisa menembak namun peluangnya kecil, sementara Anda melihat ada peluang yang lebih besar dan meyakinkan jika Anda menunda tembakan, maka tundalah

* Kita harus tanggap terhadap orang lain. Dalam sepakbola, seorang pemain harus tanggap terhadap para pemain yang lain. Sebagai contoh, jika teman Anda mengumpan ke ruang kosong dengan harapan Anda mengejar bola maka Anda harus tanggap dan segera mengejar bola tersebut. Demikian pula, jika teman Anda yang sedang menggiring bola berada dalam kesulitan, segeralah datang membantu dengan cara mengambil posisi yang tepat untuk bisa diberi umpan
Read More …

''Dan, janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.'' (QS Ali Imraan [3]: 105).

Mari, kita mengingat perumpamaan tentang sapu lidi. Beberapa lidi yang disatukan, kemudian diikat bagian pangkalnya, dapat digunakan untuk bersih-bersih ketimbang hanya sebatang saja. Filosofi di balik perumpamaan itu tak lain adalah persatuan.

Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para Muslim yang terikat oleh kesamaan akidah.

Menjadi ujian bagi akidah umat Islam manakala sebuah konflik memicu perpecahan di dalamnya. Akankah kita membiarkan perselisihan itu terus terjadi dan melemahkan kekuatan umat Islam? Apakah kita mengoreksi diri? Sudahkah akidah Islam dipegang teguh?

Akidah itu mewujud dalam keyakinan di hati, ucapan, dan tindakan. Konsekuensinya adalah bersedia menjadi insan yang bertakwa. Kuat lemahnya akidah tampak dari sejauh mana memosisikan perintah dan larangan-Nya.

Di sinilah letak fungsi koreksi, diperlukan orang lain untuk menilai perbuatan kita. Karena itu, ada kewajiban untuk saling menasihati (QS Al Ashr [103]:3). Hanya saja, manusia memang berbeda dengan lidi. Terdapat potensi perbedaan satu sama lain. Terkait hal ini, Sang Pencipta telah memberikan batas-batasannya.

Selama itu tidak mengutak-atik akidah yang sifatnya tidak dapat diganggu gugat, perbedaan tidak sepatutnya menjadi persoalan. Ketika akal manusia tidak digunakan untuk memikirkan kebenaran secara benar dan tindakan yang diambil tidak pula tepat serta memperturutkan hawa nafsu dengan enggan mendengarkan nasihat orang lain, perselisihan pun muncul yang mengakibatkan perpecahan.

Jika perselisihan itu timbul dan perpecahan umat ada di depan mata, satu-satunya jalan adalah kembali kepada akidah Islam. Sebagaimana lidi yang dengan pasrah menerima dirinya diikat, umat Islam seharusnya juga demikian, bersedia dan rela diikat dengan akidah.

Nasihat ini berlaku bagi semua pihak di dalam umat ini, baik aparat pemerintah maupun masyarakat umum. Akidah merupakan keterangan yang jelas dari Sang Pencipta. Tentunya, kita tidak ingin umat berselisih dan bercerai-berai, padahal akidah telah mengikat kita. Atau, maukah kita termasuk orang-orang yang disebutkan ayat di atas? Naudzubillahi min dzalik!
Read More …